Mereka anggap, itulah salah satu perjuangan menuntut ilmu. Rela bersusah susah. Demi berharap ilmu yang berkah.
Surau Peto. Dalam komplek Pesantren Darul Ulum, Padang Magek, ada satu surau bernama surau murai. Dahulunya surau ini dibuat oleh Almarhum Gaek Malin Saidi. Ketika membuat surau ini Malin Saidi masih muda di tahun 1950-an.
Masa itu surau murai terbuat dari tiang kayu, lantai papan, dinding anyaman bambu berupa sasak dan tadir. Setelah Malin Saidi meninggal, surau ini diwarisi adiknya Peto Kamat.
Tahun 2018, surau murai dibuat baru oleh kemanakan Malin Saidi. Ukurannya sama: besar, tingginya persis sama. Hanya bentuk atapnya beberbeda. Dahulu itu gonjong dua. Kini pakai kubah petak. Kini santri menyebutnya surau peto.
Surau peto ini dipersembahkan oleh kemanakan Malin Saidi untuk asrama Santri Pria Ponpes Darul Ulum.
Surau baru bawah tempat pertama kali, Tk.Salim Malin Kuning mulai mengajar kitab kuning dengan empat orang muridnya di tahun 1942.
Kedua surau ini masih berdiri kokoh. Tiangnya masih tangguh. Kayunya kayu pilihan. Hingga kini menjadi asrama santri laki laki Ponpes Darul Ulum Padang Magek.
Bisa tidur dan mengaji di surau ini, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi santri. Ungku Jakfar memilih tempat mengajar di surau baru bawah. Sebab, di situ dulu Tk. Salim Malin Kuning mulai mengajar 1942 dan sampai akhir hayatnya 1987.
Tampat Koto. Tampat koto merupakan tempat berkuburnya, Buya Alirumin. Konon beliau berasal dari daerah Siak Sri Indrapura, Riau. Bersama pengikutnya, beliau datang ke Nagari Padang Magek, mengembangkan agama Islam sekitar tahun 1600-an.
Editor : Berita Minang






