Terlihat juga tali temali bukit yang berjajar, yang disebut bukit panjang. Udara di sini terasa sejuk dari angin lepas di pelataran sawah yang luas.
Selain itu, pengunjung juga bisa mendengar gemercik air dari tali bandar tepi sawah. Seirama dengan alunan tafsir kitab kuning yang dibaca santri setiap pagi dan petang.
Bila berkunjung ke sini inshaa Allah hati akan tentram. Sembari berziarah ke makam tampat koto, dan tampat ateh duyan.
Sarana pendukung lainnya
Setelah sampai di Darul Ulum, pengunjung dapat melihat kesederhanaan di situ. Ada Surau Lawik. Sebenarnya bangunan ini bukan surau. Melainkan lokal belajar santri yang terdiri dua lokal. Tersebab lokal ini juga digunakan untuk tempat tidur santri (asrama), maka para santri menyebutnya surau.
Di halaman surau lawik, ada lapangan bola kaki mini. Santri tiap sore main bola di sini dengan riang gembira.
Surau Belok. Menuju ke surau yang satu ini, berbelok ke kanan sebelum sampai di halaman Gedung Utama Ponpes Darul Ulum. Karena itu sejak dahulu surau ini disebut surau belok.
Terbuat dari tiang kayu, lantai papan, dinding papan. Surau ini didirikan oleh kaum keluarga H. Marjohan Sutan Mantari, kira kira tahun 1960-an. Hingga kini masih berdiri kokoh.
Santri laki laki Darul Ulum menghuni surau ini sekitar dua puluh orang. Mereka bersempit sempit. Malah ada satu ruangan, yang atapnya dilapisi terpal, agar hujan tidak masuk. Namun para santri tetap semangat.
Editor : Berita Minang






