IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Siapkah Anak Kita Memasuki Dunia Coding dan AI?

Foto Novra Arina
Ilustrasi Siapkah Anak Kita Memasuki Dunia Coding dan AI?
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

HAMPIR setiap hari anak berhadapan dengan teknologi: menonton video, bermain gim, memakai filter kamera, atau bertanya ke chatbot. Di balik semua itu ada coding dan kecerdasan buatan (AI).

Pertanyaannya, apakah kita mau anak hanya menjadi penonton teknologi, atau pelan-pelan belajar memahami bagaimana semuanya bekerja? Dan sudah siapkah SD di Indonesia memulai langkah ke arah sana?

Teknologi Melaju, Pendidikan Masih Mengejar

Pertama, anak-anak tumbuh di dunia yang serba digital, tapi banyak dari mereka hanya memakai gawai untuk hiburan. Mereka bisa sangat mahir scroll dan klik, namun belum tentu paham apa yang terjadi “di balik layar”. Jika dibiarkan, mereka berisiko menjadi generasi yang pandai memakai teknologi, tetapi pasif dan hanya mengikuti.

Kedua, di sisi lain, banyak sekolah dasar sebenarnya sudah sadar pentingnya literasi digital, tetapi belum tahu harus mulai dari mana. Guru merasa jadwal pelajaran sudah padat, belum terbiasa dengan coding, dan khawatir akan menambah beban belajar siswa. Akibatnya, coding sering hanya jadi wacana, belum menjadi bagian yang benar-benar hidup di kelas.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Mengapa Coding Penting Sejak SD?

Pertama, coding melatih cara berpikir anak. Saat menyusun perintah langkah demi langkah, anak belajar bahwa setiap tindakan punya urutan dan akibat. Ini melatih mereka berpikir runtut, terstruktur, dan logis. Kebiasaan ini berguna bukan hanya di pelajaran teknologi, tetapi juga ketika mereka mengerjakan soal matematika, menulis cerita, atau menyusun rencana.

Kedua, aktivitas coding membantu anak belajar menghadapi masalah. Program yang tidak berjalan sesuai harapan memaksa mereka mencari letak kesalahan, mencoba cara baru, dan tidak cepat menyerah. Di banyak kelas yang sudah mencoba kegiatan coding sederhana, guru melihat anak menjadi lebih berani mencoba, lebih tenang saat salah, dan lebih terbuka menerima masukan.

Ketiga, coding membuka ruang bagi kreativitas. Anak tidak hanya bermain gim, tetapi bisa merancang karakter, alur cerita, dan aturan permainan sendiri. Mereka belajar bahwa teknologi bukan hanya untuk dikonsumsi, tetapi juga bisa menjadi media untuk berkarya dan mengekspresikan diri.

Keempat, di tingkat global, banyak negara mulai memasukkan coding sebagai bagian dari kurikulum dasar karena melihat perubahan dunia kerja. Semakin banyak pekerjaan membutuhkan kemampuan memahami data, sistem, dan otomatisasi. Meski anak kita nanti tidak semuanya menjadi programmer, memiliki dasar pemahaman cara kerja teknologi akan menjadi nilai tambah ketika mereka dewasa.

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH