IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Ketika Ranah Minang Ditantang Zaman: Dari Alam Yang Menghidupi, Minta Dipulihkan

Direktur KKI Warsi Adi Junedi lagi paparan. Foto: Rokcalva/Beritaminang
Direktur KKI Warsi Adi Junedi lagi paparan. Foto: Rokcalva/Beritaminang
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Oleh: Sukmareni

Pagi di Ranah Minang pernah selalu dimulai dengan kabut tipis di lereng Bukit Barisan, suara air sungai yang jernih mengalir dari hulu, dan sawah-sawah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Alam bukan sekadar ruang hidup, tetapi guru kehidupan. Filosofi alam takambang jadi guru bukan sekadar petuah, melainkan cara hidup yang diwariskan turun-temurun. Namun dalam beberapa tahun terakhir, lanskap yang sama mulai mengirimkan pesan yang berbeda. Berbulan tanpa hujan atau bahkan mencurahkan hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu yang singkat. Sungai meluap lebih cepat. Lereng longsor tanpa banyak peringatan.

Ranah Minang kini tidak hanya menghadapi bencana alam, tetapi menghadapi perubahan zaman yang ditandai oleh perubahan iklim global. Pola musim berubah, dan fenomena cuaca ekstrem menjadi semakin sering. Para ahli menyebutnya sebagai krisis iklim. Masyarakat merasakannya sebagai bencana yang datang lebih dekat, lebih sering, dan lebih besar.

Secara geografis, Sumatra Barat memang menyimpan paradoks. Pegunungan Bukit Barisan membentuk lanskap yang indah sekaligus rapuh. Lereng yang curam dan sistem sungai yang pendek membuat air hujan mengalir cepat dari hulu ke hilir. Ketika hujan ekstrem turun, air tidak punya banyak ruang untuk tertahan. Dalam hitungan jam, banjir bisa terjadi, dan lereng yang jenuh air bisa runtuh menjadi longsor. Kerentanan alami ini kini diperkuat oleh perubahan iklim yang membuat cuaca semakin ekstrem dan sulit diprediksi.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ditengah kerentanan alamnya yang rapuh, pola pengelolaan sumber daya alamnya juga berkontribusi atas perubahan yang terjadi. Ekspansi lahan untuk perkebunan, pertambangan dan alih fungsi lainnya, menjadikan hutan sebagai penyangga bumi berkurang drastis. Dari Hasil analisis citra satelit sentinel yang dilakukan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI, dalam dua tahun terakhir, terjadi kehilangan hutan lebih dari 20 ribu ha, dari sekitar 1,75 juta hektar pada 2023 menjadi sekitar 1,73 juta hektar pada 2025.

“Dari analisis yang kami lakukan, penurunan tutupan hutan di Sumatra Barat tidak terjadi begitu saja. Ada sejumlah aktivitas yang berkontribusi, dan salah satu yang paling mencolok adalah maraknya aktivitas penambangan emas tanpa izin atau PETI di berbagai wilayah. Selain itu, pembukaan hutan di kawasan PBPH, perkebunan kelapa sawit serta berbagai aktivitas berbasis lahan lainnya juga ikut mempercepat hilangnya tutupan hutan. Jika kondisi ini tidak dikendalikan bersama, maka tekanan terhadap ekosistem akan terus meningkat dan pada akhirnya memperbesar risiko bencana ekologis di masa depan,” kata Adi Junedi Direktur KKI WARSI, di Padang Rabu (11/2).

Hilangnya hutan bukan sekadar berkurangnya pohon. Yang hilang adalah kemampuan tanah menyerap air hujan, yang hilang adalah pelindung alami lereng-lereng curam, dan yang hilang adalah sistem alami yang selama ini menahan air agar tidak turun sekaligus menjadi banjir dan longsor. “Setiap hektar hutan yang hilang berarti semakin kecil kemampuan alam melindungi manusia. Dan ketika benteng alam itu melemah, risiko bencana tidak lagi menunggu puluhan tahun, ia bisa datang dalam hitungan musim, bahkan dalam satu hujan ekstrem,” kata Adi.

Ironinya, menurut Adi, kehilangan hutan ini juga dipicu oleh bencana hidrometeorologis akhir tahun lalu. “Ini menunjukkan bahwa kerentanan alam Sumatra Barat semakin rapuh dengan bencana yang terjadi,” ujarnya.

Sebagai contoh Adi menjelaskan di DAS Kuranji, salah satu DAS dengan mengalami bencana hidrometeorologis di Kota Padang, akibat bencana alam akhir november lalu menyisakan hutan yang runtuh lebih dari 300 hektar.

Editor : Ade MS
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH