Dalam proses tersebut, ternyata saya bertemu dengan versi diri saya yang rapuh yang lelah. Yang ingin menyerah kalau kalah, yang mempertanyakan pilihannya sendiri. Dulu, perasaan-perasaan itu saya anggap sebagai tanda kegagalan. Kini, saya mulai melihatnya sebagai tanda bahwa saya sedang bertumbuh. Tidak ada pertumbuhan tanpa gesekan. Tidak ada kemajuan tanpa ketidaknyamanan.
Sekarang, saya pun mulai belajar memaafkan kegagalan. Hal yang dulu pantang saya lakukan. Dulu, kegagalan terasa seperti vonis: bahwa pencapaian yang akan diraih tidak akan berjalan baik. Sekarang, saya memandangnya sebagai catatan. Bukan untuk disesali, tetapi untuk dipelajari. Apa yang terlalu memaksa? Apa yang perlu disederhanakan? Apa yang perlu diubah?
Mencintai proses juga berarti berdamai dengan ketidaksempurnaan. Kita harus menyakini bahwa tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Segala sesuatu pasti ada kurangnya. Dan itu harus kita sadari. Saya mesti menyadari bahwa akan ada hari-hari ketika saya tidak produktif. Ada rencana yang tertunda. Ada target yang harus diatur ulang. Dulu, semua itu membuat saya merasa tidak layak. Sekarang, saya mulai menerima bahwa saya manusia, bukan mesin. Energi pasti akan naik turun. Fokus tidak selalu stabil. Dan itu tidak apa-apa dan bukanlah masalah.
Hasil bisa datang dan pergi. Ia bisa hilang, dilupakan, atau tergantikan. Namun proses meninggalkan bekas yang lebih dalam. Ia membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Ia mengajarkan ketahanan yang tidak lahir dari kemenangan instan.







