Setelah rangkaian peristiwa kegagalan, saya mulai menyadari tentang hal yang sangat penting. Saya mulai bertanya, apakah semua harus dinilai oleh hasil akhir? Apa tujuan hidup ini hanya sekadar pengakuan dan pujian saja? Beruntung Tuhan cepat memberikan saya kesadaran tanpa harus menunggu tua dulu. Ketika tulang masih kuat dan darah masih pekat-pekatnya. Saya syukuri itu.
Belajar Berdamai dengan Proses
Dari pengalaman-pengalaman itulah saya mencoba melakukan hal kecil terlebih dahulu. Mengingat dan menikmati setiap langkah yang dicoba. Saya bahkan mencatatnya dalam diary. Biar tidak lupa. Tujuannya satu, jika langkah tersebut gagal, saya tidak mengulangi langkah yang sama. Tapi mencoba langkah baru, meski pun langkah baru belum menjamin keberhasilan juga. Setidaknya saya punya cara baru yang akan jadi pengalaman berikutnya.
Saya baru mengingat, dahulu, tiap langkah yang saya ambil tak ada bantahan. Semuanya harus dari ide dan pikiran saya sendiri. Pantang bagi saya menerima masukan dan saran dari orang lain. Semuanya pun saya kerjakan sendiri. Sehingga pada akhirnya, orang-orang sekitar, teman dan kolega takut mengingatkan. Kalau sukses mereka bertepuk tangan. Kalau gagal mereka diam bahkan mungkin ada yang bersyukur.







