Selama proses penumbukan hingga menjadi serbuk, Kopi Cap Teko tidak mengandung campuran lain, tapi murni 100 persen kopi asli jenis robusta.
Candra Wilson, melanjutkan, ditengah pandemi covid-19 Ini usaha Kopi Cap Teko juga mengalami penurunan omset penjualan, namun jumlahnya tidak terlalu signifikan, masih ada sedikit keuntungan untuk membayar 8 orang pekerjanya.
Tidak seperti masa jayanya ditahun 80 an hingga tahun 2000, pemasaran Kopi Cap Teko sudah merambah berbagai provinsi di Indonesia bahkan dampai kenegeri seberang dengan perolehan keuntungan signifikan karena pasar terbuka luas dengan mempertahankan mutu dan kualitas kopi robusta tanpa campuran alias asli.
Ditengah kondisi saat ini, produksi dibatasi hanya sekitar 500 kg per minggunya yang bubuknya langsung dikemas langsung dengan kemasan plastik standar kesehatan agar lebih higienis. Harga per kilogramnya di bandrol Rp 55 ribu dengan 3 varian kemasan terdiri dari 50 gram, 100 gram, dan 200 gram per bungkus.
Saat ini, Pabrik kopi kincir air cap teko mampu menyerap tenaga kerja 8 pekerja, terdiri dari 2 tukang sangrai atau randang, 2 orang pengayak, dan 3 orang tukang bungkus atau kemasan, dan 1 orang penjaga toko sebagai pusat pernjualan produksi. Mereka di gaji Rp 100 ribu untuk harian, dan borongan Rp 500 untuk setiap 1 kg hasil ayakan. Mereka bekerja dari pukul 8.00 sampai pukul 16.00 wib setiap hari. (***)
Editor :






