Dalam rangkaian yang sama, penyelenggara MGR 2025, juga turut meluncurkan Geopark Run Series 2026,yang merupakan sebuah konsep acara lari berkelanjutan yang akan digelar di sejumlah kawasan geopark di Indonesia, seperti Geopark Ciletuh, Geopark Belitung, Geopark Ijen dan Geopark Minang.
Rangkaian ini katanya dirancang untuk menggabungkan olahraga, pariwisata, pelestarian alam, dan pemberdayaan ekonomi lokal dalam satu ekosistem yang berkelanjutan. “Geopark Run Series adalah visi jangka panjang kami. Bukan hanya tentang lari, tetapi bagaimana olahraga bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal alam, budaya, dan mendorong dampak positif bagi daerah,” ungkap Yv.Tri Saputra.
Sementara Race Director, Imam Al Akbar, menjelaskan, dua bulan sebelum pelaksanaan, telah mendaftar sebanyak 3500 peserta, terdiri dari 20 persen warga Bukittinggi-Agam dan 80 persennya dari daerah lain, termasuk 1000 lebih peserta dari provinsi tetangga.
“Setelah terjadi bencana, kami cek lagi rute yang akan dilalui pelari, Ada sejumlah titik rawan yang tidak lewati, termasuk di Jembatan Koto Gadang,sehingga tahun ini, kembali ke rute pelaksanaan tahun 2018 lalu. Kita start jam 06.00 untuk kategori 21k. 5 menit setelah itu, kita lepas untuk kategori 10 K dan 5 menit setelah itu, kita lepas lagi untuk kategori 5k,” jelasnya.
Wali Kota Bukittinggi, menyampaikan bahwa Minang Geopark Run 2025 berperan sebagai penggerak sport tourism dan solidaritas pemulihan Sumatera Barat.
Menurut Wako, Minang Geopark Run merupakan bagian dari agenda 1001 acara dalam kalender pariwisata Kota Bukittinggi. Ia menilai sport tourism terbukti memiliki dampak ekonomi yang luas. “Bertambah banyak orang datang ke Bukittinggi, bertambah tumbuh ekonomi, UMKM, dan sektor lainnya", jelas Ramlan.
Editor : Marjeni Rokcalva






