Strategi Media Publikasi di Era Digital
Pemerintah membutuhkan strategi komunikasi yang lebih fleksibel, komprehensi, dan berbasis data seiring dengan perubahan kebiasaan komunikasi masyarakat di era digital. Ada empat teknik utama saat ini digunakan sebagai pedoman kegiatan humas pemerintah berdasarkan studi tahun 2024 oleh Kementria Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan penelitian empiris oleh Lestari dan Nugroho (2023), serta penelitian Sukma dan Prasetyo (2024).
1. Penguatan Website Resmi sebagai Pusat Informasi Publik
Sumber utama akses publik terhadap informasi anggaran, kebijakan, dan layanan publik adalah melalui situs web pemerintah. Situs web ini berfungsi sebagai repositori digital informasi pemerintah dalam konsep transparansi. Sebanyak 93% dari 668 instansi pemerintah pusat dan daerah memiliki situs web yang aktid, tetapi hanya 61% yang memperbarui informasi secara berkala (Kominfo, 2024). Kurangnya keseragaman ini menyoroti perlunya peningkatan manajemen konten agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas, alih-alih hanya mengikuti proses administratif.
Portal nasional Indonesia.go.id adalah contoh praktik yang bagus dengan mengintegrasikan berita kebijakan, layanan publik, serta narasi kebangsaan secara interaktif. Lalu, juga ada Lapor.go.id yang memfasilitasi partisipasi warga dalam pengawasan layanan publik. Dengan desain antarmuka yang mudah diakses, portal ini mencerminkan konsep komunikasi dua arah yang efisien .
2. Pemanfaatan Media Sosial untuk Komunikasi Dua Arah
Sebagai contoh, ketika pandemi Covid-19, Kementrian Keseatan meluncurkan kapmanye #CekFaktaVaksin, yang tidak hanya memberikan informasi tetapi uga secara langsung menangani penipuan kesehatan. Lalu, ada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyebarluaskan informasi bencana melalui video edukasi yang mudah dipahami di akunn TikTok-nya. Pendekatan ini konsisten dengan paradigma komunikasi simetris dua arah karena memungkinkan publik memberikan masukan langsung, yang kemudian dianalisis oleh tim humas untuk meningkatkan komunikasi (Lestari & Nugroho, 2023).
Namun, tantangan utamanya adalah konsistensi dan kualitas administrasi akun resmi. Banyak akun instansi masih hanya menawarkan informasi satu arah, mempromosikan acara resmi tanoa mendorong diskusi. Padahal, masyarakat menuntuk komunikasi yang lebih empatik, kontekstual, dan responsif terhadap isu-isu sosial.
3. Kolaborasi dengan Media Massa dan Influencer Publik
Editor : Marjeni Rokcalva






