Di gedung serba guna IKMS Denpasar, setiap Sabtu malam para pemuda-pemudi Minang berkumpul untuk berlatih tambua tasa, randai, silat, dan tari piring. Bahkan, terdapat dua grup tambua tasa aktif: satu dari IKMS dan satu dari Keparapatan Anak Nagari Agam (KANA). Mereka tampil dalam berbagai acara besar, seperti penyambutan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno pada tahun 2019 serta pertunjukan pembukaan "Minangkabau Heritage" di Mall Level 21 Denpasar yang menggabungkan musik dan tari khas Minangkabau.
Dentuman tambua tasa juga menggema di jantung ibu kota Jakarta pada Festival Danau Maninjau tahun 2018. Parade ini melibatkan lebih dari seribu tambua tasa dari berbagai kota di Indonesia. Car Free Day di Bundaran HI menjadi saksi bagaimana tambua tasa tampil spektakuler dan kolosal, hingga mencatatkan rekor di Museum Rekor Indonesia (MURI).
Festival ini bukan hanya bentuk pelestarian budaya, tapi juga kampanye kepedulian lingkungan, khususnya terhadap kondisi Danau Maninjau yang mulai tercemar akibat keramba jaring apung. Menurut Hendry Harmen, ketua umum Bamus Perantau Salingka Danau Maninjau, festival ini bertujuan menggugah kesadaran masyarakat dan pemerintah untuk menyelamatkan danau yang menjadi kebanggaan bersama.
Kemunculan tambua tasa sebagai musik prosesi lintas konteks ini menandai pergeseran penting dalam dinamika kebudayaan Minangkabau. Dulu, tambua tasa hanya hadir dalam ruang adat dan keagamaan. Kini, ia telah masuk ke ruang-ruang publik yang lebih luas, menjadi bagian dari ekspresi budaya di dunia pendidikan, pentas perantauan, hingga panggung nasional.
Transformasi ini tidak lepas dari kerja kolektif banyak pihak: komunitas adat, guru-guru, seniman, tokoh perantau, hingga pemerintah daerah. Semua berperan dalam membangun ekosistem yang memungkinkan tambua tasa tetap hidup dan berkembang di tengah tantangan zaman.
Ia mengingatkan bahwa di era Revolusi Industri 4.0, ketahanan budaya adalah hal mutlak. Menurutnya, tambua tasa perlu dijaga bukan hanya karena ia tradisi, tetapi karena ia mampu menjawab kebutuhan emosional, spiritual, dan sosial masyarakat Minangkabau dalam berbagai konteks kehidupan. (***)
Penulis: Andika Putra Wardana, Mahasiswa Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
Editor : Marjeni Rokcalva






