DI TENGAH bentangan Danau Maninjau yang luas dan tenang, dentuman tambua tasa mengisi udara. Irama yang menghentak dari gendang dan tasa ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakat Minangkabau. Bagi masyarakat Minangkabau, tambua tasa bukan sekadar alat musik, melainkan juga simbol identitas, semangat komunal, bahkan perlawanan kultural terhadap arus perubahan zaman yang kian deras. Musik ini hidup dan berkembang di ruang-ruang sosial yang beragam, dari panggung adat hingga pentas pendidikan, dari kampung halaman hingga ke rantau di kota besar.
Tambua tasa terdiri dari dua instrumen utama, tambua dan tasa. Tambua adalah gendang besar berbentuk silinder, berdinding kayu ringan, dan dilapisi kulit di kedua sisi. Tasa, di sisi lain, berbentuk seperti wajan dan semula menggunakan kulit kijang yang kini digantikan oleh mika plastik. Keduanya dimainkan dengan cara dipukul secara ritmis dan sinkron, menghasilkan suara keras, menggetarkan, dan penuh energi.
Dalam praktiknya, ansambel tambua tasa bisa terdiri dari empat hingga lima belas buah tambua, dilengkapi dengan satu atau dua tasa. Irama yang muncul bukan hanya membangkitkan semangat, tetapi juga menciptakan suasana yang intens dan meriah, sesuai dengan fungsi sosialnya dalam berbagai upacara adat.
Salah satu panggung terbesar bagi tambua tasa adalah upacara tabuik di Kota Pariaman, sebuah perayaan keagamaan yang memperingati syahidnya Husein bin Ali di Padang Karbala. Dalam rentang waktu 1–10 Muharam setiap tahun, keranda simbolik yang disebut tabuik diarak keliling kota, diiringi oleh dentuman tambua tasa yang menggema sepanjang jalan. Ketika puncak acara tiba, masyarakat meneriakkan “Hoyak Hosen!” sambil menggoyang tabuik, diiringi irama cepat dan dinamis dari tambua tasa yang memicu semangat massa.
Menurut Asril (2004), suara tambua tasa dalam prosesi ini memiliki fungsi psikologis sebagai pemantik emosi, membuat pertunjukan terasa hidup, bahkan “beringas” dalam konteks semangat. Tabuik tidak hanya menjadi pertunjukan religius, tetapi juga ajang pelestarian budaya dan daya tarik wisata andalan yang mampu menarik ribuan penonton, termasuk perantau yang pulang kampung.
Rusdi, Kepala sekolah SMPN 1 Tanjung Raya, menyebutkan bahwa murid-muridnya sangat antusias memainkan tambua tasa, bahkan tampil di berbagai ajang seperti Festival Danau Maninjau dan acara-acara kenegaraan. Hal serupa dikemukakan oleh Tiwi Artati, guru seni budaya di MTsN 2 Agam, yang menyatakan bahwa banyak siswa laki-laki memiliki minat tinggi terhadap musik ini karena teknik permainannya relatif mudah dipelajari dibandingkan kesenian Minang lainnya.
Tambua tasa juga memainkan peran sentral dalam upacara adat Minangkabau seperti batagak panghulu dan alek marapulai. Dalam batagak panghulu, upacara pengangkatan kepala suku, tambua tasa menjadi simbol legitimasi sosial dan kehormatan. Dalam alek marapulai, pesta pernikahan adat, tambua tasa mengiringi arak-arakan pengantin laki-laki menuju rumah mempelai perempuan, diiringi pula dengan talempong dan pupuik batang padi.
Tradisi ini mencerminkan filosofi adat Minangkabau yang menjadikan prosesi sebagai simbol peralihan status sosial. Dentuman tambua tasa tidak hanya menjadi pelengkap, melainkan inti dari keseluruhan suasana yang menghidupkan prosesi adat tersebut. Bahkan anak-anak muda yang memainkan tambua dalam upacara ini sering disebut “anak mudo,” yang menjadi kebanggaan nagari.
Fenomena penting lainnya adalah berkembangnya tambua tasa di luar Sumatera Barat. Seiring tradisi merantau masyarakat Minangkabau, tambua tasa turut merantau ke berbagai kota besar seperti Pekanbaru, Medan, Jakarta, hingga Denpasar, Bali. Di Bali, komunitas perantau mendirikan organisasi sosial Ikatan Keluarga Minang Saiyo (IKMS), yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga pusat pelestarian budaya.
Editor : Marjeni Rokcalva






