Selain proyek-proyek seperti penyelesaian Bandara Mentawai, pembangunan jalan tol, pembangunan jembatan layang (fly over) di Sitinjau Lauik, masih banyak lagi proyek-proyek yang tentu tidak terlepas dari gigihnya usaha Gubernur Mahyeldi untuk mendapatkannya.
Terbaru, saat beraudiensi dengan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK RI, Satyawan Pudyatmoko pada Rabu (17/01/2024). Disepakati pula soal optimalisasi fungsi Hutan Lindung (HL) Taman Hutan Raya (Tahura) Bung Hatta serta hutan lindung lainnya di Sumbar.

Dikatakan, optimalisasi diperlukan untuk memaksimalkan pemanfaatan potensi kawasan hutan lindung dan Tahura untuk penelitian, pendidikan dan pariwisata, serta mendukung pembangunan infrastruktur dan perekonomian di kawasan tersebut.
"Sebelumnya, kita telah menyampaikan surat kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait optimalisasi hutan lindung di Sumbar, termasuk hutan lindung di Tahura Bung Hatta," ujar Mahyeldi, didampingi Asisten II Setdaprov Sumbar Arry Yuswandi, Kepala Dishut Yozarwardi, Kepala Biro Adpim Mursalim serta Kaban Penghubung, Aschari di Kantor KLHK RI.
Ditjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V ditugaskan untuk melakukan pekerjaan infrastruktur yang membentang Kecamatan Panti, Kecamatan Rao Selatan dan Kecamatan Rao itu.
Kepala BWS Sumatera V Dian Al Ma'ruf mengatakan, kondisi eksisting jaringan irigasi Panti-Rao pada umumnya sudah mengalami kerusakan. Dan itu wajar saja mengalami kerusakan, karena pembangunan fisik Bendung Panti Rao berikut jaringan irigasinya sudah dilaksanakan sejak 1992 dan berakhir pada 1998 dengan sumber dana murni APBN
Untuk areal Batang Sumpur melewati Taman Wisata Alam Rimbo Panti dengan panjang 2-3 km. Khusus pada area tersebut, BWS Sumatera V tidak bisa mengelola, karena berada di bawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Dian juga menjabarkan, khusus pekerjaan rehabilitasi Jaringan Irigasi Panti Rao yang dilaksanakan selama empat tahun, menyelesaikan sepanjang 16,1 km jaringan dengan luasan lahan pertanian hampir mencapai 3000 hektare
Editor : Marjeni Rokcalva






