Mungkin kita ingat ucapan Charles Darwin yang pernah mengatakan, " Bukanlah mereka yang paling kuat atau paling cerdas yang dapat bertahan hidup, melainkan mereka yang paling tanggap beradaptasi terhadap perubahanlah yang dapat bertahan ".
Oleh karena itu, pandemi corona sebenarnya telah memaksa umat manusia untuk bertransformasi menjadi Manusia Pembelajar melalui berbagai adaptasi -- adaptasi yang mensyaratkan "Masih mau membaca", "Masih mau belajar", "Masih mau belajar mandiri", dan tak mudah putus asa saat menemui berbagai kesulitan. Inilah ilustrasi manusia tangguh, yang selalu memiliki semangat belajar dan pantang mengeluh. Kita tidak perlu menangis saat ketemu dengan permasalahan sesulit apapun, karena percayalah air mata takkan mampu menyelesaikan masalah. Jika air mata bisa menyelesaiakan masalah, maka ada jutaan umat manusia yang hanya akan menangis untuk menyelesaikan masalahnya.
Masalah akan selesai jika kita mau bangkit dan berusaha dengan bersungguh - sungguh untuk menyelesaikannya. Ada adaptasi -- adaptasi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Jadi yang penting adalah masih ada keinginan untuk belajar dan terus belajar, karena setiap langkah kehidupan kitapun sesungguhnya adalah anak tangga pembelajaran. Meski ada yang naik tangganya pelan perlahan, dan ada juga yang berlari pesat seperti rudal balistik. Disinilah kecepatan dan kecerdasan harus berpadu secara harmonis agar selamat sampai di tujuan. Dengan kata lain, kita harus menjadi "The Fast Learner" dan "The Best Adapter".







