SEPANJANG masa pemberlakuan PSBB akibat pandemi wabah corona disikapi oleh setiap orang berbeda -- beda tergantung pada situasi dan kondisi masing -- masing. Ada yang statusnya diliburkan, ada yang bekerja dari rumah (work from home), ada yang terpaksa tetap harus keluar untuk mencari nafkah, ada yang di-PHK karena perusahaan sudah tak mampu lagi memberi gaji, dan lain -- lain. Sebagian yang lain memanfaatkan kesempatan ini untuk banyak membaca, baik membaca kitab suci ataupun belajar ilmu -- ilmu yang lainnya. Namun tentu ada juga sebagian yang kurang suka denngan baca- baca yang agak serius, kecuali bacaan ringan yang sifatnya guyonan semata. Pada kesempatan ini, saya mungkin ingin mengingatkan kita semua tentang pentingnya belajar.
Belajar bagi setiap muslim merupakan sebuah kewajiban. Setiap amal ibadah kita akan diterima oleh Allah SWT jika sesuai dengan ketentuan -- ketentuan yang sudah disyariatkan. Ada tata cara yang wajib dijalankan, dan tentu semua itu bisa dilaksanakan jika kita tahu ilmunya. Dan ilmu akan didapatkan melalui suatu proses yang disebut pembelajaran. Nabi Muhammad Shallallahualahi wa sallam bersabda :
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim".
(HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha'if Sunan Ibnu Majah no. 224)
Proses belajar untuk menuntut ilmu dalam pandangan Islam merupakan bagian dari ibadah yang wajib untuk selalu dilakukan sejak lahir sampai meninggal dunia. Artinya ada sebuah titik dimana kita dibebaskan dari kewajiban untuk menuntut ilmu, yaitu ketika sang ajal datang untuk menjemput kita di gerbang pintu kematian. Akhir perjalanan dari ikhtiar dalam menuntut ilmu, bukanlah saat kita bisa menyelesaikan pendidikan formil di perguruan tinggi sampai level tertinggi, melainkan di ujung tebing keabadian bernama "KEMATIAN".
Beribadahlah kepada Tuhanmu, sampai bertemu kematian. (QS. Al-Hijr : 99)
Dengan demikian setiap muslim harus menyadari bahwa ada satu kewajiban ibadah yang kadang terlupakan yaitu kewajiban untuk selalu menuntut ilmu. Baik ilmu agama ataupun ilmu lain yang menunjang dan bermanfaat dalam kehidupan kita. Mungkin terkadang kita malas untuk membaca -- baca, tapi sadarilah bahwa itu memang bagian dari perjuangan. Dan setiap perjuangan tentu tidak mudah. Butuh niat dan itikad yang kuat, serta ikhtiar yang maksimal. Soal pemilihan bidang pembelajaran tentu bisa disesuaikan dengan peminatan masing -- masing. Termasuk pemilihan metode pembelajaran serta instrumen belajar yang dipakai. Seperti saat ini, ketika wabah corona merebak di seantero dunia melahirkan banyak konsep belajar e-learning atau digital learning yang telah menjadi bagian integral dari konsep Digital Life. (Kehidupan Digital).
Lihat saja saat ini hampir semua pelajar dan mahasiswa harus belajar di rumah secara virtual dengan guru atau dosennya, menggunakan teknologi digital. Meski hal ini belum bisa dilakukan di seluruh negeri karena infrastruktur teknologi yang masih terbatas, namun tidak menyurutkan semangat juang untuk terus belajar di tengah berbagai keterbatasan. Begitupun dengan para pegawai, baik pegawai pemerintah atau swasta saat ini dituntut agar tetap bisa bekerja dari rumah menggunakan teknologi digital untuk rapat, diskusi atau presentasi. Para pelaku usaha, bukan saja pengusaha besar melainkan para pengusaha kecil (UKM) sudah mulai banyak memanfaatkan e-marketing atau marketing digital. Transaksi bisnis tidak harus ketemu langsung antara penjual dan pembeli seperti dalam konsep pasar konvensional karena saat ini mulai marak bermunculan pasar digital bernama marketplace dengan platform digital.
Saat ini juga sudah banyak sekali pelaksanaan seminar, diskusi atau training dengan cara live webinar melalui beragam saluran e-Learning dari berbagai belahan dunia. Ibu-ibu di rumah juga memasak dipandu oleh chef menggunakan teknologi video digital. Pehobi kebugaran mengikuti instruksi pelatih secara virtual dari video streaming. Para pelaku usaha memasarkan, mendapat pesanan dari pelanggan secara virtual , lalu diantarkan oleh pengemudi ojek online. Itulah sedikit gambaran era baru saat ini menuju kehidupan Digital Life yang lebih komprehensif di kemudian hari. Memang masih perlu banyak set up penyesuaian dalam penerapannya, dimana generasi milenial tampaknya akan jauh lebih siap.







