Dalam ingatan kolektif masyarakat minangkabau dahulu yang tercatat dalam tambo, cerita asal mula wilayah ini sangat puitis. Dikisahkan bahwa nenek moyang orang minangkabau berasal dari keturunan sultan iskandar zulkarnain. Rombongan merela sedang berlayar dilautan luas dan melihat sebuah daratan sebesar telur itik, puncak itu ternyata gunung merapi. Pada masa itu, wilayah dibawah kaki gunung itu digenangi oleh air laut.
Nenek moyang orang minangkabau lalu membuat permukiman awal di dekat puncak gunung merapi tersebut. Selain perubahan iklim, air laut perlahan menyusut sehingga daratan dikaki gunung menjadi luas. Nenek moyang orang minangkabau pun turun dari gunung dan membangun permukiman di lembah lembah subur di sekitar gunung merapi tersebut.
Setelah proses turun dari gunung, nenek moyang orang minangkabau membagi wilayah mereka menjadi 2 wilayah yaitu, wilayah darek dan wilayah rantau. Wilayah darek atau daratan ialah daerah inti tempat system adat, hukum, dan budaya minangkabau yang dirumuskan oleh tokoh legendaris yang bernama datuak katumanggunggan dan datuak parpatiah nan sabatang.
Yang pertama bernama luhak tanah datar atau disebut juga sebagai luhak nan tuo, dimana wilayah ini yang pertama kali di huni, daerah ini mempunyai filosofi yaitu “buminyo lembang, aia nyo tawa, ikannyo banyak.” Ungkapan tersebut menggambarkan wilayah tersebut berlekuk atau tidak datar serta penduduknya banyak.







