IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Inilah Bahaya Pencemaran Merkuri dari Tambang Emas Ilegal

Foto Rensa Ayu Lestari
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Sungai merupakan salah satu sumber kehidupan yang dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, irigasi pertanian, perikanan, hingga sebagai sumber air baku. Namun, aktivitas pertambangan emas ilegal yang masih banyak ditemukan di berbagai daerah berpotensi menurunkan kualitas air sungai akibat penggunaan merkuri dalam proses pengolahan emas.

Pada pertambangan emas skala kecil, pemisahan emas umumnya dilakukan menggunakan air raksa melalui proses amalgamasi. Air raksa dicampurkan dengan material yang mengandung emas hingga membentuk amalgam, kemudian dipanaskan untuk memisahkan emas dari air raksa. Proses ini menyebabkan sebagian air raksa terlepas ke tanah, sungai, maupun udara sehingga mencemari lingkungan.

Di lingkungan perairan, air raksa dapat berubah menjadi merkuri anorganik (Hg²) yang bersifat toksik. Dalam kondisi tertentu, mikroorganisme dapat mengubahnya menjadi metilmerkuri yang memiliki tingkat toksisitas lebih tinggi dan mudah terakumulasi pada organisme air. Melalui rantai makanan, merkuri dapat masuk ke tubuh manusia sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti kerusakan sistem saraf, gangguan fungsi ginjal, serta gangguan perkembangan janin pada ibu hamil.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Pencemaran merkuri sering kali sulit dikenali karena air yang tercemar tidak selalu berubah warna, berbau, maupun tampak keruh. Sungai mungkin masih terlihat bersih dan tetap digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas sehari-hari, padahal logam berat tersebut dapat tersimpan di dalam air maupun organisme perairan dan memberikan dampak buruk apabila terpapar dalam jangka panjang.

Keberadaan merkuri di perairan umumnya diketahui melalui pengujian laboratorium menggunakan instrumen seperti Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) atau Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS). Metode tersebut memiliki tingkat akurasi yang tinggi, tetapi memerlukan peralatan khusus, biaya yang relatif mahal, serta tenaga ahli sehingga kurang praktis untuk pemantauan kualitas air secara rutin, terutama di daerah yang jauh dari fasilitas laboratorium.

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH