Di Indonesia sendiri, sebagian sekolah di kota besar mulai mengenalkan coding melalui klub, kegiatan ekstrakurikuler, atau kerja sama dengan lembaga luar. Namun banyak sekolah lain yang belum punya komputer memadai atau internet yang stabil. Perbedaan ini menunjukkan bahwa upaya mengenalkan coding dan AI harus disertai perhatian terhadap kesenjangan fasilitas.
Apa yang Bisa Kita Lakukan Bersama?
Pertama, sekolah dapat memulai dari hal sederhana tanpa harus menunggu semuanya “sempurna”. Konsep-konsep dasar coding bisa dikenalkan tanpa komputer, misalnya lewat permainan peran, kartu instruksi, atau permainan gerak berurutan. Setelah itu, baru pelan-pelan dikenalkan aplikasi coding visual yang ramah anak. Guru juga perlu mendapat pelatihan yang praktis, sehingga merasa didampingi, bukan dibiarkan belajar sendiri.
Kedua, pemerintah dan pemangku kebijakan perlu melihat coding dan pemahaman AI sebagai bagian dari literasi dasar baru. Dukungan bisa berupa pelatihan guru yang terstruktur, modul siap pakai yang mudah diadaptasi, serta penguatan infrastruktur di sekolah-sekolah yang tertinggal. Dengan begitu, pengenalan coding tidak hanya terjadi di beberapa sekolah unggulan, tetapi bisa dinikmati lebih banyak anak di berbagai daerah.
Pada akhirnya, memperkenalkan coding dan AI kepada anak SD bukan soal memaksa mereka menjadi programmer sejak kecil. Inti utamanya adalah menumbuhkan cara berpikir yang teratur, berani mencoba, kreatif, dan tidak mudah menyerah. Jika sekolah, pemerintah, dan orang tua bergerak bersama, anak-anak Indonesia punya kesempatan lebih besar untuk menjadi generasi yang bukan hanya memakai teknologi, tetapi juga mampu memahami dan mengarahkannya untuk kebaikan. (***)







