ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kesalahan berbahasa Indonesia yang muncul dalam kolom komentar pada unggahan media sosial Instagram yang menampilkan video debat antara seorang remaja dan Gubernur Jawa Barat. Fenomena ini menjadi viral dan menuai respons besar dari masyarakat, khususnya remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi dokumen. Sumber data berupa 15 komentar yang dikumpulkan dari kolom komentar unggahan Instagram. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi tangkapan layar, sedangkan teknik analisis menggunakan teori analisis kesalahan berbahasa menurut Tarigan dan acuan PUEBI serta KBBI.
Hasil analisis menunjukkan bahwa komentar-komentar yang ditulis remaja cenderung mengandung berbagai bentuk kesalahan kebahasaan, antara lain kesalahan ejaan, morfologi, sintaksis, semantik, dan campur kode. Kesalahan yang paling dominan adalah penggunaan kata tidak baku dan singkatan, penggunaan struktur kalimat tidak lengkap, serta pencampuran Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris yang tidak sesuai konteks. Temuan ini menunjukkan bahwa terdapat pergeseran praktik berbahasa di ruang digital yang cenderung mengabaikan norma kebahasaan baku. Praktik tersebut dapat memengaruhi perkembangan kompetensi bahasa Indonesia remaja dalam konteks akademik maupun formal. Penelitian ini menegaskan pentingnya literasi kebahasaan di era digital dan diharapkan menjadi acuan dalam penguatan pendidikan Bahasa Indonesia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan media sosial.
Kata Kunci: bahasa gaul, ejaan, Instagram, remaja, sintaksis
ABSTRAK (INGGRIS)
The findings indicate that most comments written by teenagers contain various types of language errors, including spelling, morphological, syntactical, semantic errors, and code-mixing. The dominant errors include non-standard word usage, informal abbreviations, incomplete sentence structures, and inappropriate mixing of Indonesian and English. These findings reflect a language shift in digital spaces that often overlooks standard language norms. Such practices may negatively impact teenagers’ competence in using formal Indonesian in academic and professional settings. This study highlights the urgent need for language literacy in the digital age and aims to serve as a reference for strengthening Indonesian language education that adapts to technological and social media developments.
Keywords: code-mixing, Instagram, spelling, syntax, teenagers
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, khususnya di kalangan remaja yang merupakan pengguna aktif media sosial. Platform seperti Instagram tidak hanya menjadi media berbagi foto dan video, tetapi juga ruang diskusi yang kerap kali dipenuhi komentar dari para pengguna. Dalam kolom komentar tersebut, muncul berbagai variasi bahasa yang menyimpang dari kaidah Bahasa Indonesia baku. Fenomena ini menjadi penting untuk dikaji karena menunjukkan dinamika kebahasaan generasi muda dalam konteks digital.







