IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia pada Konten Debat Publik di Medsos

Foto Khevariesmi Hanibal, dkk
Ilustrasi Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia pada Konten Debat Publik di Medsos
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

6. Struktur Kalimat Tidak Efektif

Beberapa komentar mengandung kalimat yang tidak lengkap, seperti tanpa subjek atau predikat yang jelas, serta struktur yang repetitif (“bener-bener lebay sumpah”) yang tidak logis dalam tulisan formal.

7. Kosakata Alay dan Viral

Kata seperti “pinjol”, “ambyar”, dan penggunaan emoji berlebihan () menunjukkan pengaruh budaya viral di media sosial yang berorientasi pada hiburan, bukan pada substansi isi atau argumentasi.

2) Refleksi Sosiolinguistik

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Menurut Tarigan (1995), kesalahan berbahasa tidak hanya mencakup aspek tata bahasa, tetapi juga konteks sosial penggunaannya. Dalam konteks ini, remaja mengembangkan ekosistem bahasa mereka sendiri yang bersifat cair, adaptif, dan ekspresif. David Crystal (2022) juga menggarisbawahi bahwa bahasa internet adalah "spoken writing" — bentuk tulisan yang meniru bahasa lisan.

Namun, ketika pergeseran ini tidak diiringi dengan literasi kebahasaan formal, akan terjadi ketimpangan antara kemampuan ekspresif dan kemampuan struktural bahasa. Ini menjadi ancaman nyata terhadap kemampuan menulis ilmiah, berpikir sistematis, dan berkomunikasi formal.

3) Dampak terhadap Pendidikan dan Solusi

Jika tren kesalahan ini tidak diatasi, akan muncul generasi yang memiliki kesenjangan besar antara kemampuan berbahasa informal dan formal. Beberapa dampak nyata yang mungkin timbul:

• Kesulitan Menulis Akademik: Remaja kesulitan membedakan bahasa tulisan ilmiah dan media sosial.

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH