Terombang ambing yang dimaksud adalah, belum adanya kepastian pengangkatan mereka sebagai tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK/P3K) oleh pemerintah pusat. Dalam keseharian, tak jarang para penyuluh pertanian langsung bertani guna membantu kehidupan mereka, termasuk Yuli sendiri.
Yuli bersama rekan-rekan penyuluh honor lain telah, sebenarnya telah dinyatakan kelulusannya sebagai tenaga P3K pada Januari 2019 silam. Namun hingga saat ini belum ada informasi pasti terkait pengangkatan mereka sebagai P3K tersebut.
Saat ini, ia sedang menunggu proses ditetapkannya padi simauang sebagai padi varietas unggul lokal Solok Selatan.
Ia mengaku telah melakukan uji lapangan semenjak 2018 silam dengan dibantu oleh Balai Pengawasan Sertifikasi Benih (BPSB) Sumbar di Bukittinggi dan juga Dinas Pertanian.
Menurutnya sudah seharusnya Solok Selatan memiliki varietas benih padi yang tersertifikasi yang akan meningkatkan produktifitas petani seperti halnya varietas siamuang. Selama ini benih padi di Solsel seperti halnya redek, anak daro, bawan, dan lainnya telah disertifikasi oleh daerah lain.
Dengan disertifikasinya padi ini nantinya, maka para petani akan mudah mendapatkan benih berlabel, tersertifikasi, dan telah melalui uji lapangan dan juga penelitian. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktifitas petani itu sendiri.
"Kita ada 32 orang PNS, dan 32 orang honorer penyuluh pertanian. Dan baru sebagian yang bisa kita bantu dengan sepeda motor," ungkap Vera.
Pihaknya sudah berencana untuk menyediakan sepeda motor pada tahun ini melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) pusat, namun terkendala akibat covid, sehingga belum jadi dilaksanakan.
Plt. Kadis Pertanian Del Irwan ketika dimintai tanggapannya, terkait harapan penyuluh berprestasi Yuli Asnita untuk mendapatkan motor dinas baru, ia mengatakan akan mengupayakan agar keinginan Yuli tersebut dapat terealisasi dan dianggarkan nantinya.
Editor : Berita Minang






