Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi Sumbar sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren peningkatan, terutama dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Tekanan inflasi tersebut berpotensi semakin meningkat seiring terganggunya pasokan pangan akibat bencana dan tingginya permintaan.
“Jika tidak dimitigasi segera, kondisi tersebut tentu akan semakin memperparah tekanan inflasi bagi Sumatera Barat,” ujar Mahyeldi.
Menghadapi kondisi tersebut, Mahyeldi menegaskan pentingnya sinergi dan kolaborasi lintas sektor, baik antara pemerintah pusat dan daerah, Bank Indonesia, maupun seluruh pemangku kepentingan, dalam upaya pengendalian inflasi. Ia lalu menawarkan 2 pendekatan utama untuk menekan laju inflasi di Sumbar, yakni pengendalian harga dalam jangka pendek serta penguatan ketahanan pangan daerah untuk jangka panjang.
Mahyeldi mengingatkan, berkaca dari pengalaman tahun sebelumnya, komoditas utama penyumbang inflasi pada periode Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2024–2025, yakni cabai merah, bawang merah, dan beras. Sehingga, komoditas tersebut perlu menjadi fokus pengendalian bagi TPID ke depan.
Editor : Ade MS






