IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Beginilah Keseruan Mahasiswa Sastra Minangkabau Unand Latihan Mata Kuliah Randai

Mahasiswa Sastra Minangkabau Unand sedang latihan Randai. Foto: Revy Trisma Wahyuni
Mahasiswa Sastra Minangkabau Unand sedang latihan Randai. Foto: Revy Trisma Wahyuni
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

RANDAI adalah seni pertunjukan khas Minangkabau yang memadukan unsur drama, tari, musik tradisional, dan silek (silat). Pertunjukan ini biasa dilakukan secara berkelompok dalam lingkaran sambil menyampaikan cerita rakyat atau legenda melalui syair dan dialog. Sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal, mahasiswa Program Studi Sastra Minangkabau Universitas Andalas mendapatkan mata kuliah khusus yang mempelajari dan mempraktikkan seni randai secara langsung.

Kami, mahasiswa semester empat angkatan 2023, saat ini tengah berada dalam tahap latihan intensif untuk pertunjukan randai sebagai bagian dari penilaian akhir mata kuliah. Pertunjukan ini akan dilaksanakan di Youth Center Padang, sebuah panggung terbuka yang kerap digunakan untuk pertunjukan seni dan budaya di kota ini. Momen ini menjadi pengalaman yang sangat berharga sekaligus menantang, karena kami tidak hanya berperan sebagai pemain, tetapi juga sebagai penggagas, pemusik, kreator, dan tim produksi pertunjukan.

Pada semester sebelumnya, kami sudah mendapatkan pengalaman tampil dalam pertunjukan drama Minangkabau. Dalam randai, kami tidak hanya berbicara dan berakting, tetapi juga harus menyanyi, menari dalam irama khas Minang, serta menguasai gerakan-gerakan silek yang menjadi ciri utama pertunjukan.

Proses latihan dimulai sejak pertengahan semester. Diawali dengan pembacaan dan pemahaman naskah yang telah dipilih oleh kita sendiri. Kami diberi kebebasan untuk mengembangkan naskah, memilih latar cerita, dan mengatur adegan. Ada teman yang mengusulkan untuk memasukkan unsur humor khas Minang. Bersama-sama, kami mulai membedah struktur cerita, mengembangkan dialog, dan menyesuaikan syair agar lebih komunikatif. Kami kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing. Ada yang menjadi pemain utama, pemusik, koreografer, konsumsi, hingga bagian perlengkapan dan kostum.

Salah satu proses yang paling menyita waktu adalah latihan gerakan lingkaran dan silek. Randai tidak akan berjalan lancar tanpa kekompakan antar pemain. Dalam satu gerakan tepuk tangan atau hentakan kaki, jika ada satu orang saja yang tidak sinkron, maka irama akan kacau. Karena itu, kami harus berlatih berulang-ulang, bahkan untuk bagian pembukaan saja bisa memakan waktu berhari-hari sampai gerak, irama, dan suara benar-benar menyatu.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Gerakan silek Minang juga menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi teman-teman yang belum pernah mempelajarinya sebelumnya. Kami harus belajar teknik-teknik dasar, seperti langkah tiga, langkah empat, serta jurus-jurus sederhana yang digunakan dalam pertunjukan. Meskipun awalnya sulit, lambat laun kami mulai bisa mengikutinya, berkat bantuan teman-teman yang sudah lebih dulu mengenal dunia randai dan persilatan.

Selain itu, setiap gerakan dalam randai harus sejalan dengan musik pengiring. Kami menggunakan alat musik tradisional seperti talempong, gandang tambua, bansi, dan saluang. Beberapa mahasiswa yang memiliki bakat bermain alat musik tradisional menjadi pengiring utama dalam latihan dan pementasan. Latihan pun sering kami lakukan secara terpisah antara pemain dan pemusik, kemudian digabungkan setelah masing-masing di rasa cukup bisa mengiringi satu samalain.

Kostum dan perlengkapan juga menjadi hasil kerja keras bersama. Kami menyewa kostum dari luar, dan membuat beberapa properti secara mandiri. Misalnya, saluak (penutup kepala khas Minangkabau), agar terlihat menarik di panggung.

Kami juga mendesain poster digital dan spanduk, membuat video promosi singkat yang disebarkan melalui media sosial untuk menarik penonton. Semua ini dilakukan oleh teman-teman media/pubdok(publikasi dan dokumentasi) dengan semangat tinggi.

Latihan kami lakukan setiap sore setelah jam kuliah, biasanya di halaman kampus atau MNB Fakultas Ilmu Budaya. Meskipun badan lelah setelah seharian kuliah, semangat kami tidak surut. Suasana latihan selalu penuh gelak tawa, kadang juga penuh konsentrasi. Tak jarang kami melakukan kesalahan, tertukar posisi, atau lupa gerakan. Tapi semuanya kami anggap sebagai proses belajar yang menyenangkan.

Editor : Marjeni Rokcalva
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH