Salah satu hal yang membuat latihan ini terasa seru adalah rasa kekeluargaan di antara kami. Kami belajar saling menghargai peran masing-masing, mendengarkan saran, bahkan membantu menghafal syair atau memperbaiki gerakan. Semua merasa memiliki tanggung jawab terhadap pertunjukan ini. Walaupun terkadang antara kami terjadi selisih paham.
Mendekati hari pementasan di Youth Center Padang, latihan menjadi lebih padat. Melakukan gladi bersih, dan memperhatikan detail-detail teknis seperti blocking dll. Kami juga mulai lebih disiplin dalam hal waktu dan pembagian tugas.
Antusiasme mulai terasa dari berbagai pihak. Dosen pembimbing, uda/uni satu jurusan, dan teman-teman mahasiswa dari prodi lain ikut menyaksikan latihan kami dan memberikan semangat. Bahkan, ada pihak luar kampus yang ikut membersamai kami dalam proses latihan.
Bagi kami, pementasan ini bukan hanya tentang nilai akhir mata kuliah. Ini adalah ajang pembuktian bahwa generasi muda Minangkabau masih peduli dan cinta dengan budayanya. Kami ingin menunjukkan bahwa randai bukan seni yang ketinggalan zaman, melainkan seni yang bisa terus hidup jika diwariskan dan dikemas dengan baik.
Kami berharap, pertunjukan kami nanti bisa menghibur sekaligus menginspirasi penonton. Bahwa seni budaya Minangkabau masih relevan, menarik, dan layak untuk terus dipelajari serta dipentaskan, baik di panggung kampus maupun panggung yang lebih luas. (***)
Laporan: Revy Trisma Wahyuni Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas
Editor : Marjeni Rokcalva






