IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Mengenal Uang Japuik, Tradisi Menjemput Marapulai dan Simbol Kehormatan di Pariaman

Foto Jasik Qairama
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Misalnya, jika pihak perempuan memberikan Uang Japuik sebesar 50 juta rupiah, pihak laki-laki pada saat acara pernikahan atau setelahnya akan membawa barang-barang seserahan (isi kamar, perhiasan emas, atau perlengkapan rumah tangga) yang nilainya seringkali setara atau bahkan lebih besar dari uang tersebut. Secara administratif, uang itu "menjemput" laki-laki, namun secara esensi, pihak laki-laki membalasnya dengan modal untuk membangun kehidupan baru mereka. Ini adalah bentuk diplomasi halus yang memastikan bahwa pernikahan dimulai dengan saling memberi, bukan saling memeras.

Ini adalah bentuk timbal balik kehormatan. Pihak perempuan menghormati dengan menjemput, dan pihak laki-laki membalas dengan memberikan perlindungan serta nafkah yang layak bagi istrinya kelak.

Bagi seorang pria Pariaman, menerima Uang Japuik bukanlah alasan untuk merasa "terbeli" dan kehilangan wibawa. Sebaliknya, hal ini sering kali menjadi cambuk motivasi dan beban tanggung jawab yang positif. Ia sadar bahwa dirinya telah dijemput dengan cara yang sangat hormat dan melibatkan pengorbanan materi serta harga diri dari keluarga istrinya. Kesadaran ini menuntut sang suami untuk bekerja lebih keras dan membuktikan bahwa dirinya memang layak atas penghormatan tersebut. Di sisi lain, bagi sang istri, pemberian Uang Japuik memberikan rasa memiliki dan kepercayaan diri bahwa suaminya adalah sosok yang diakui kualitasnya secara adat dan sosial.

Di tengah arus modernisasi, tradisi Uang Japuik tetap eksis karena fungsinya sebagai alat pemersatu. Proses negosiasi Uang Japuik melibatkan niniak mamak (tetua adat) dari kedua belah pihak. Di sinilah letak ujian bagi kedua keluarga untuk saling memahami, menurunkan ego, dan mencapai kesepakatan demi kebahagiaan anak kemenakan.

Uang Japuik tidak pernah diputuskan oleh calon pengantin sendirian. Ini adalah urusan kaum. Peran Niniak Mamak sangat krusial. Mereka bertindak sebagai diplomat yang memastikan pembicaraan mengenai uang tidak terkesan kasar atau seperti berdagang.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Mereka berfungsi sebagai negosiator yang menggunakan bahasa kiasan dan perumpamaan (petatah-petitih) agar pembicaraan mengenai materi tidak terkesan kasar atau transaksional. Perundingan ini sering kali disebut sebagai ujian kearifan; bagaimana pihak perempuan menunjukkan niat tulus untuk menjemput, sementara pihak laki-laki menunjukkan kerendahan hati dalam menerima. Keberhasilan mencapai kesepakatan tanpa adanya pihak yang merasa tersinggung adalah bukti bahwa kedua keluarga memiliki martabat dan tata krama yang tinggi.

Kehormatan dalam Uang Japuik bukan terletak pada besarnya nominal uang yang dipamerkan, melainkan pada kesepakatan yang mufakat dan bagaimana kedua keluarga besar saling menghargai posisi masing-masing tanpa ada pihak yang merasa direndahkan.

Memasuki era digital, pandangan anak muda Pariaman terhadap Uang Japuik mulai mengalami pergeseran yang menarik namun tetap menghormati akar tradisi. Banyak pasangan muda saat ini yang memilih untuk melakukan "tabungan bersama" guna menutupi biaya Uang Japuik tersebut. Hal ini dilakukan agar secara formal adat tetap terpenuhi dan kehormatan orang tua di depan publik tetap terjaga, namun secara finansial tidak memberatkan salah satu pihak. Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi Uang Japuik memiliki fleksibilitas; ia mampu beradaptasi dengan realitas ekonomi modern tanpa harus kehilangan esensi spiritual dan kulturalnya.

Selama masyarakat Pariaman masih memegang teguh filosofi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah", Uang Japuik akan terus ada bukan sebagai beban, melainkan sebagai pengingat bahwa sebuah pernikahan adalah peristiwa agung yang melibatkan harga diri, silsilah, dan masa depan kaum. (***)

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH