Banyak mahasiswa, termasuk saya sendiri, sering merasa bersalah saat harus memprioritaskan diri sendiri. Ada rasa takut dianggap egois atau tidak setia kawan. Namun, ada perbedaan mendasar antara egoisme dan menjaga diri. Egoisme adalah bertindak demi keuntungan pribadi dengan merugikan orang lain. Sementara itu, menetapkan batasan adalah bentuk perlindungan diri agar kita tetap sehat secara mental sehingga kita bisa terus berkontribusi bagi orang lain dalam jangka panjang. Kita tidak bisa memberikan cahaya kepada orang lain jika lampu di dalam diri kita sendiri sudah padam karena kehabisan bahan bakar.
Menjaga Dialog Internal: Kekuatan Kata-kata
Sebagai mahasiswa Sastra, saya sangat percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan magis untuk membentuk realitas. Hal ini juga berlaku pada dialog internal cara kita berbicara kepada diri sendiri di dalam pikiran. Cobalah perhatikan, kalimat apa yang paling sering muncul di kepalamu saat kamu gagal? Apakah kalimat penyemangat, ataukah cacian seperti "Kamu memang bodoh" atau "Kamu tidak akan pernah bisa"?
Membangun self-love berarti melatih ulang suara internal kita. Kita harus belajar mengganti narasi kebencian dengan narasi kasih sayang. Mengubah pikiran dari "Saya gagal karena tidak berguna" menjadi "Saya gagal kali ini, itu artinya saya harus mencoba cara yang berbeda" adalah bentuk konkret dari mencintai diri sendiri. Ini adalah proses memahat karakter lewat kata-kata yang membangun, bukan yang meruntuhkan. Cinta diri adalah janji untuk tetap berdiri di sisi kita sendiri, terutama saat seluruh dunia seolah-olah sedang menjauh.
Pada akhirnya, mencintai diri sendiri bukanlah sebuah destinasi atau titik akhir di mana kita akan merasa sempurna selamanya. Self-love adalah sebuah komitmen harian sebuah kerja keras untuk terus menerima diri di setiap fasenya, baik saat kita sedang di puncak prestasi maupun saat kita sedang berada di titik terendah. Skincare mungkin akan membuat wajahmu cerah dalam semalam, tetapi penerimaan diri akan membuat jiwamu tetap terang meski di tengah kegelapan.
Mari kita berhenti menjadikan self-love sebagai ajang pamer kemewahan. Mari kita kembalikan maknanya pada hal-hal yang lebih esensial tentang memaafkan diri sendiri, tentang menetapkan batasan yang sehat, dan tentang keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah dunia yang terus menuntut kita menjadi orang lain. Hubungan paling lama yang akan kita jalani sepanjang hidup adalah hubungan dengan diri kita sendiri. Maka, pastikan hubungan itu didasari oleh cinta, penghargaan, dan kejujuran yang tulus. Sebab, sebelum kita mencintai orang lain atau mencintai budaya kita, kita harus terlebih dahulu berdamai dengan sosok yang kita lihat di cermin setiap pagi.







