PADANG PANJANG - Gusnedi atau yang biasa akrab dipanggil Da Edi, pria pekerja keras yang telah berumur 63 tahun ini, masih semangat untuk mendorong gerobak baksonya untuk mencari penghidupan.
Da Edi telah berjualan bakso dari tahun 1977 sampai sekarang, 43 tahun lamanya ia menekuni usaha kuliner ini dan tak pernah kendor. .
Pada awalnya Da Edi hanya berjualan tahu dan mie yang diberi kuah saja, tidak pakai bakso . Hal itu dikarenakan pada saat itu belum ada orang yang memiliki mesin untuk menggiling daging untuk membuat bakso.
Pada tahun 1983 sudah ada orang yang memiliki mesin untuk menggiling daging, dan pada saat itulah da Edi mulai menambahkan Bakso untuk menu dagangannya.
Da Edi mulai mempersiapkan dagangannya dari Subuh hari, berdua dengan istrinya sampai jam 10 pagi. Pada pukul 10 pagi, Da Edi mulai mendorong gerobaknya dan berjualan di depan SDN Komplek Teladan, Padang Panjang, Sumbar.
Kebanyakan yang menjadi pelanggan dari bakso Da Edi adalah pelajar, karena harganya cukup terjangkau di kantong pelajar. Selain itu yang manjadi daya tarik orang membeli bakso Da Edi yaitu "Burger".
Burger yang dijual Da Edi bukan seperti burger pada umumnya, karena burger Da Edi tersebut terbuat dari tahu goreng yang dipotong melintang lalu diisi dengan bakso dan sedikit mie.
"Istilah burger ini diberikan oleh para pelajar yang sering membeli bakso saya," ungkap Da Edi, akhir pekan ini.
Adapun harga dari "Burger" tersebut cuma Rp.1000,- saja. Sedangkan harga bakso per mangkoknya hanya Rp.10.000,-.
Editor :






