Pada hari kedua, peserta mendapatkan pendalaman materi dan pendampingan penulisan bersama Gus tf Sakai. Menurut Gus tf Sakai, selama ini banyak orang menganggap cerita rakyat itu hanya sebagai dongeng anak-anak saja. Padahal, cerita rakyat adalah milik semua kalangan. Oleh karena itu, cerita rakyat perlu ditulis ulang dengan bahasa yang lebih menarik agar tetap dinikmati oleh semua pembaca dari berbagai usia."
Nada Aprila Kurnia, salah seorang peserta workshop, menyatakan bahwa materi yang disampaikan Gus tf Sakai membuka wawasannya bahwa cerita rakyat tidak hanya sebagai dongeng sebelum tidur atau menakuti anak-anak seperti cerita Malin Kundang.
Karena pentingnya melahirkan kembali cerita rakyat Minangkabau, Ria Febrina sebagai Ketua Pelaksana menjelaskan bahwa workshop ini merupakan komitmen dari Sanggar Kilau Aksara dan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat untuk mendorong Gen Z mendokumentaskan dan menyebarluaskan cerita rakyat Minangkabau dengan gaya Gen Z itu sendiri. ***
Editor : Marjeni Rokcalva






