Di balik pesona kepariwisataan Kecamatan Harau di Kabupaten Lima Puluh Kota, Nagari Taram telah memberi inspirasi tentang pemberdayaan generasi muda melalui kesenian yang diwadahi oleh Nagari. Daerah dengan jumlah penduduk lebih dari 8.000 jiwa ini bukan hanya dikenal sebagai kawasan ekowisata, tetapi juga memiliki komunitas kesenian yang aktif dalam bentuk sanggar yang bergerak di bidang pengembangan seni pertunjukan, khususnya musik dan tari Minangkabau.
Di tengah berbagai aktivitas berkesenian yang rutin dilakukan generasi muda selama ini, yang sekaligus menjadi potensi bagi pelestarian budaya, tersimpan pula tantangan sosial yang cukup serius. Banyak anak muda putus sekolah yang belum memiliki pekerjaan tetap, mau bergabung dengan sanggar seni, seperti yang terjadi di Sanggar Kamilta binaan Nagari Taram. Fenomena ini menunjukkan bahwa sanggar menjadi ruang alternatif yang positif bagi mereka, meskipun kondisi sosial yang melatarbelakanginya tidak bisa diabaikan.
Dalam wawancara 8 November 2025 dengan Drs. Esy Maestro, M.Sn., selaku Ketua Pengabdian Masyarakat skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM), menyatakan fenomena ini sudah sepenuhnya ditingkatkan lagi dengan dukungan kegiatan pembinaan pada tujuan yang sama; yaitu dengan melaksanakan program Pengabdian Masyarakat Kementerian Ristekdikti RI yang diwadahi dalam kerjasama Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan yang bekerja sama dengan Universitas Negeri Padang, Nagari Taram, dan Sanggar Kamilta. Program PKM dimaksud sudah dimulai sejak Juni 2025 di lapangan, dan terus berlangsung hingga Desember 2025. Program ini didanai dengan dalam skema PKM DPRM tahun 2025, yang hasil dan penganggarannya dilaporkan secara berkala kepada Prof. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., selaku Dirjen Risbang Kemenristekdikti.
Didampingi oleh Yos Sudarman, S.Pd., M.Pd., dan Abror, M.E., Ph.D., sebagai anggota tim PKM, ketua pelaksana PKM juga menjelaskan bahwa keterlibatan generasi muda putus sekolah yang memiliki bakat seni dalam kegiatan sanggar dalam PKM merupakan strategi bersama antara pemerintah nagari dan tim pengabdi untuk mengantisipasi kerawanan sosial. Remaja putus sekolah dianggap rentan terjebak dalam perilaku negatif, sehingga pembinaan melalui kesenian menjadi pendekatan kreatif dan inklusif yang memberi mereka ruang berkembang. Kerja sama antara tim PKM—dibantu mahasiswa UNP—dengan Sanggar Kamilta serta pemerintah Nagari Taram di lapangan telah berhasil menghadirkan pelatihan musik dan tari dengan pola yang memberdayakan para remaja, demikian ungkap ketua PKM tersebut.
Saat tim redaksi meninjau langsung ke lapangan, diketahui bahwa Sanggar Kamilta telah berdiri sejak 2023 sebagai wadah nirlaba yang disediakan nagari untuk menyalurkan bakat seni pemuda putus sekolah. Melalui program PKM, berbagai pembenahan dilakukan, mulai dari pemberian bantuan fisik berupa peralatan musik, pelatihan musik dan tari oleh para pakar, hingga pembinaan manajemen sanggar yang mencakup administrasi, pengelolaan atribut, dan strategi promosi.Pada wawancara yang sama dengan ketua PKM di lokasi, Nanag Anwar SE selaku Wali Nagari Taram, menjelaskan bahwa semua bantuan fisik dan cara pengelolaan sanggar yang sudah diberikan tim PKM atas nama program pengabdian masyarakay, yang seterusnya kegiatan ini akan dilaksanakan secara berkesinambungan. Dalam kesempatan wawancara yang sama, Wali Nagari Taram, Nanag Anwar, SE, menjelaskan bahwa seluruh bantuan fisik dan tata kelola sanggar yang diberikan oleh tim PKM merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang diharapkan dapat berjalan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kegiatan yang telah dimulai melalui PKM tidak boleh berhenti setelah program berakhir, melainkan harus diteruskan sebagai bagian dari upaya nagari membangun pendidikan informal bagi generasi muda.
Wali Nagari juga mengingatkan Ketua Sanggar Kamilta, Taprijal, agar aktivitas sanggar, termasuk tujuan dan model kegiatannya, tetap dilanjutkan meskipun PKM nantinya telah selesai. Menurutnya, berbagai hasil positif yang telah dicapai—termasuk bantuan peralatan yang sudah diterima—harus terus dimanfaatkan sesuai arahan tim PKM dan tetap berada dalam binaan nagari sebagai sarana pembinaan masyarakat. Kelanjutan aktivitas inilah yang akan memastikan sanggar tetap menjadi ruang kreatif bagi generasi muda. Ketua Sanggar Kamilta, Taprijal, turut menjelaskan bentuk kegiatan yang telah dan masih berlangsung selama program PKM. Sedikitnya terdapat empat bentuk kegiatan utama yang dijalankan, yaitu: (1) pelatihan musik dan tari secara mandiri oleh anggota menggunakan peralatan yang disediakan; (2) pelatihan terstruktur melalui workshop musik dan tari yang dipandu para pakar; (3) pelatihan manajemen sanggar yang terintegrasi dalam workshop; serta (4) pendampingan pengurus dalam menyiapkan kelengkapan administrasi dan fasilitas untuk penyelenggaraan pertunjukan di masyarakat. Hingga berita ini diturunkan, seluruh kegiatan tersebut berlangsung dengan baik. Semakin banyak anggota sanggar yang berlatih dengan fasilitas baru, manajemen sanggar yang mulai tertata meski bersifat nirlaba, serta meningkatnya kepercayaan diri anggota dalam menyiapkan pertunjukan seni. Semua perkembangan ini membuka peluang lebih luas bagi pemuda putus sekolah di Nagari Taram untuk terus mengembangkan diri melalui kegiatan positif. Terakhir, Ketua PKM Drs. Esy Maestro, M.Sn. menambahkan lagi bahwa seluruh bentuk kegiatan yang berjalan di sanggar tersebut secara langsung maupun tidak langsung telah menyibukkan remaja putus sekolah berbakat seni dengan aktivitas produktif, sehingga mereka terhindar dari tindakan kriminal serta tidak terlibat dalam berbagai kerawanan sosial lainnya. Sanggar Kamilta dengan demikian bukan hanya menjadi pusat aktivitas seni, tetapi juga menjadi ruang pembinaan sosial yang efektif bagi generasi muda Nagari Taram. (red)






