Seorang sahabat wartawan senior pada kegiatan tersebut bercerita, saat ini, di era disrupsi informasi, dimana media khususnya online tumbuh bagai jamur di musim hujan. Menjadi wartawan begitu gampang, mendirikna media begitu gampang, tapi (-maaf) mengesampingkan tujuan luhur dari jurnalisme.
Ada peristiwa menarik yang terjadi saat ini di tanah air. Hanya bermodalkan kartu pers dan surat tugas, banyak orang sudah mengaku menjadi wartawan.
Celakanya, perusahaan pers baik media elektronik, cetak maupun online begitu gampangnya mengeluarkan kartu pers dan surat tugas peliputan, yang alih-alih calon si wartawan hanya membayar kisaran Rp 250.000 -- Rp 300.000.
Ironisnya, saat proses rekruitmen wartawan tidak lagi mengunakan seleksi. Tidak ada lagi proses house training bagi wartawan yang baru direkrut terlebih lagi bagi wartawan yang sudah bekerja.
Bahkan, rapat redaksi pun di sebuah media sudah tidak lagi dilakukan. Fenomena seperti itu terjadi dikalangan industri pers dan kepada wartawannya, jangan harap menghasilkan produk jurnalistik yang berkulitas.
Dewasa ini semua orang bisa menjadi penyampai informasi tapi belum tentu menjadi penulis berita. Banyak orang salah memaknai, dan mengatakan bahwa informasi sama dengan berita, sehingga menyamakan informasi hoax dengan berita hoax. Padahal sangat jauh berbeda, namanya berita memiliki syarat-syarat khusus, ada rumus penulisannya, dan kriterianya.
Sebenarnya, untuk menekuni profesi mulia tersebut, seorang wartawan harus memiliki pengetahuan yang mencakup pengetahuan tentang jurnalisme, pengetahuan umum, dan pengetahuan sesuai bidang kewartawan yang bersangkutan.
Seorang wartawan juga harus memiliki keterampilan antara lain mencakup keterampilan menulis termasuk penempatan tanda baca, wawancara, riset dan investigasi.
Saking gampangnya mengantongi kartu pers, maka, hanya bermodalkan kartu pers itu banyak mengaku wartawan padahal tak ada kemampuan untuk menulis berita sesungguhnya. Intinya tanpa pernah mengenyam pendidikan tingkat apapun kini dengan leluasa mudah memiliki kartu pers.
Editor : Marjeni Rokcalva






