BUKITTINGGI - Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar, mengatakan, banyak tantangan yang harus diselesaikan, diantaranya bagaimana mengembalikan dan mengemas implemetasi adat dan budaya Minangkabau kepada generasi muda.
"salah satu Caranya yang bisa dilakukan mengadaptasikan dengan perkembangan teknologi. Bagaimana kita mengajarkan adat dan budaya Minangkabau ini secara visual dan digital. Beberapa kearifan lokal di sejumlah daerah sudah mulai hilang karena digitalisasi. Agar Kita tidak sampai seperti itu,perlu kita ajarkan adat dan budaya ini dengan sistem digital, sehingga mereka dapat menikmati ilmunya dan mengimplemetasikan dalam kehidupan sehari -hari," ujar Erman.
Hal itu disampaikan Wako pada saat pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) ke VIII Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota Bukittinggi tahun 2022, di Istana Bung Hatta, Sabtu (27/08).
Wako mengharapkan LKAAM punya program yang akan dijalankan, bukan untuk direncanakan lagi. Saat ini Pemko Bukittinggi mulai menerapkan pelestarian adat Minangkabau melalui bidang pendidikan dengan muatan lokal Budaya Adat Minangkabau (BAM), di tingkat SD dan SMP se Bukittinggi.
"Terima kasih pada pengurus LKAAM 2018-2022 atas pengabdiannya. Diharapkan nantinya pemimpin dan pengurus LKAAM Bukittinggi 2022-2027 dapat ditentukan dengan musyawarah," harapnya.
Musda dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama pembukaan dan hari kedua, Minggu (28/08) dilaksanakan Pati Ambalau,tambahnya.
Sementara Ketua LKAAM Bukittinggi, Syahrizal Dt.Palang Gagah, menyampaikan, secara hirarki, LKAAM dan KAN merupakan dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan.
Di Bukittinggi keduanya selalu berjalan berdampingan. LKAAM Bukittinggi saat ini sudah berusia 40 tahun
Dikatakannya, LKAAM harus mampu menjaga nilai nilai Adat Minangkabau dan falsafah hidup orang Minang, Adat Basandi Syara' Syara' Basandi Kitabullah. Sementara Generasi muda kini lebih banyak mengambil budaya luar. Ini tentu menjadi tanggung jawab bersama, katanya.
Editor : Marjeni Rokcalva






