Saya : " Apa nenek gak rugi dan berniat menaikan harga, misal Rp. 10.000,- seperti pedagang yang lain juga umumnya harganya segitu ", jawabku.
Nenek : "Ah ngak usah pak, kasihan masyarakat kecil yang ingin makan gak bisa beli kalo harganya mahal ".
Saya : "Tapi kan kalau harga Rp. 10.000,- mah wajar saja bukan mahal, nek ".
Nenek : " Mungkin iya pak buat sebagian masyarakat. Tapi sebagian masyarakat lain merasakan saat ini terlalu berat beban kehidupannya. Masa kita ingin ikut memperberat lagi beban rakyat kecil. Jangankan dinaikkan menjadi Rp. 10.000,-. Menaikan harga jadi Rp. 6.000,- saja, nenek mah gak berani. Takut ditanya di alam kubur nanti, kenapa kamu hidup mempersulit orang lain ? menyulitkan orang lain ? Nenek mah takut dipersulit di alam kubur nanti, jadi di dunia ini, nenek tidak mau mempersulit orang lain. Bagi nenek bisa menyambung hidup untuk makan saja sudah cukup karena sebesar apapun harta yang dimiliki tidak akan dibawa mati. Nenek gak perlu kaya, karena takut pertanggungjawabannya di yaumul akhir nanti sangat berat ", pungkasnya.
Saya : "Nenek pernah pesantren atau suka ikut pengajian dimana nek ?"
Nenek : " Tidak pak. Nenek mah orang tidak berpendidikan. Hanya sering ingat pesan almarhum orang tua dulu, agar kita tidak menyusahkan orang lain. Mungkin kita hidup susah, tapi pantang untuk menyusahkan orang lain. Kasihan pak, rakyat saat ini hidupnya banyak yang kesusahan. Nenek mah tidak mau menjadi beban siapapun. Meskipun nenek sekolah SD saja tidak tamat, tapi nenek ingin hidup mulia di akhirat kelak. Nenek takut menjadi orang yang dianggap mulia di mata dunia, tapi menjadi orang hina di akhirat ".
Tak lupa kuucapkan terima kasih banyak atas perbincangan malam itu. Lalu ku bayar dengan sedikit lebih pada nenek tadi, akupun pamit pergi untuk melanjutkan perjalanan ke pasar karena ada titipin anak yang harus dibeli. Aku jadi teringat almarhum ibuku...,tak terasa air mata ini menetes kembali. Mengingat sebelum puasa juga tidak sempat ziarah ke pemakamannya di Tasikmalaya, karena keburu ada penerapan kebijakan PSBB yang meminta kita "stay at home".
Ku nyalakan kembali sepeda motorku dan setelah pamit sama nenek penjual soto tersebut, aku pun berangkat. Di sepanjang perjalanan aku meresapi dan merenungi perkataan nenek tukan soto tadi. Banyak nilai -- nilai kehidupan yang sangat berharga. Ternyata pelajaran yang luhur tidak harus dari orang yang gelarnya berjejer, cukup dari nenek yang tidak tamat SD saja, hati dan jiwaku tersentuh untuk lebih peduli pada sesama.
Orang yang tidak berpendidikan saja punya nilai dan pandangan hidup yang sangat luhur untuk tidak menyusahkan dan memberatkan orang lain. Tapi kenapa saat ini tidak sedikit orang yang sudah "kaya dan pinter" saja, fikirannya masih banyak yang mementingkan diri sendiri. Mungkin mereka lupa bahwa sukses itu bukan seberapa besar kekayaan yang dimiliki, tapi sejauhmana kehadiran kita bisa memberi manfaat buat orang lain. Permudah orang lain, bantu orang lain dan jangan mempersulit orang lain. Percayalah orang yang suka mempersulit orang lain, maka kehidupan setelah kematiannya akan banyak mendapat kesulitan, seperti yang dikatakan nenek tadi.







