DI TENGAH tiupan angin malam yang cukup dingin, aku ikuti kemauan perut laparku menuju salah satu pasar tradisional di kota Bandung. Di sana ada salah satu pedagang langganan yang masakannya dirasa cukup cocok untuk ukuran lidahku.
Belum sampai ke tujuan, ternyata mulai turun hujan. Meskipun hujannya tidak terlalu besar, namun tiupan angin cukup membuat tubuhku menggigil kedinginan. Akhirnya ku berusaha lihat kiri kanan untuk mencari tempat berteduh, sekalian istirahat melepas lelah.
Nun jauh di sebelah kiri jalan, ada pedagang soto dorong yang kelihatannya sepi. Akhirnya sepeda motorku, menepi di tukang soto itu sekedar untuk ikut berteduh saja. Sekaligus muncul niatku untuk sekalian beli soto yang ada saja, daripada harus memaksakan ke pasar yang masih cukup jauh dengan resiko pakaian basah kuyup.
Ku matikan sepeda motorku sambil menepi sambil kukatakan, " Nek tolong buatkan 1 mangkok soto ya ", pintaku padanya. Akupun dipersilahkan duduk, sambil mengelap tempat duduk dan meja jualan yang agak basah kehujanan. Saya memanggilnya nenek, karena penjualnya seorang ibu yang kelihatannya sudah cukup sepuh. Perkiraanku mungkin usia 65 -- 70 tahunan.
Ternyata rasa soto tersebut lumayan enak, apalagi perut lapar mulai sulit diajak kompromi. Tentu saja soto tersebut ku lahap habis, sambil menyeruput air teh hangat yang disediakan. Setelah selesai makan, aku bertanya :
Nenek : " Rp.5.000,- saja pak"
Saya merasa kaget dengan jawaban nenek tukang soto tersebut karena harganya saya nilai terlalu murah. Masa hari gini yang mana semua serba mahal, apalagi di tengah pandemi wabah corona yang terus meluas, masa ada pedagang makanan yang masih menjual dengan harga yang sangat murah. Lalu terjadi lagi dialog, :
Saya : "Nek apa gak salah dengar, harganya kok Rp. 5.000,- ?"
Nenek : " iya emang segitu nenek biasa jualannya ".







