Niat tulus para dokter dan perawat dalam sebuah pengabdian tugas untuk rakyat dan negara telah menganti dengan nyawanya. Dari hari ke hari terus bertambah. Keelokan dan kedamaian Indonesia telah diporak porandakan corona. Tidak saja menjadi sebuah ketakutan, ekonomi pun dalam waktu singkat menurun tajam. Medsos telah didominasi kasus kasus corona yang kian viral.
Memandang Keluarga Jelang Kematian
Kisah dokter muda yang masih sempat memandang putri putri dan istri tersayangnya yang tengah hamil muda jelang ajal menjemput. Ia mungkin telah menyadari bahwa virus pedemi Corona juga telah bersarang di tubuhnya.
Ceritanya Ia usai menangani serta membantu menyelamatkan pasien virus positif Corona, ia kembali kerumah, namun ia tak masuk ke dalam rumah, dokter muda Hadio Ali Khazatsin melalui informasi medsos hanya berdiri di pintu pagar halaman depan rumahnya.
Photonya diabadikan kala ia menatap anak anak dan istri yang dicintainya. Mulutnya mengenakan masker, ia menatap istri dan buah hati tersayangnya. Entah apa yang ada dalam fikirannya kala itu, usai menatap putri dan istrinya yang tengah hamil muda mengandung buah hatinga, diyakini ia berlalu sambil melayangkan seuntai sebyuman dan lambaian terakhir tangannya yang selama inj selalu menggendong buah hatinya itu.
Dokter muda ini berlalu meninggalkan duka yang cukup mendalam bagi keluarganya. Ia dirawat dalam ruangan isolasi sampai ajal menjemput. Bahkan penguburanpun tak lagi bisa disaksikan istri dan anak. Padahal mereka sangat membutuhkan kehadiran seorang suami dan ayah bagi anak anaknya. Selamat jalan pahlawan Corona, semoga dirimu pergi dalam sahid dan husnul khotimah. Sebab dirimu wafat setelah berjuang untuk rakyat dan negaramu.
Sebuah kisah yang patut menjadi sebuah pembelajaran kita bersama, ketika warga Italia memandang remeh corona. Mayat mayat terus begelimpangan, para dokter, perawat dan tenaga tenaga yang progesionalpun telah bertumbangan. beberapa kota besar telah ditetapkan lockdown, masyarakat terisolasi dan dihantui saat ajal kian terus mendekat.
Meski penyesalan telah tiba atas sebuah ungkapan meremehkan tak lagi berarti. Awalnya mereka tak peduli, tak begitu hirau dengan Corona yang sedang mengoncang dunia. Kini negara spaghetti itu daerah terparah dengan membayar ribuan nyawa untuk sebuah kata yang tak peduli. Penyesalan lenyap diantara mayat mayat yang berserakan setiap harinya.
Mari Putus Mata Rantai di Ranah Minang







