Sebagai wujud syukur, Andi Mulya mendorong Ampera menginisiasi seminar dan peluncuran buku tersebut dengan ada akhir Juni lalu di Pondok Darul Ulum, Batusangkar, menampilkan Yulfian Azrial sekaligus editor dan penerbit.
Sebagai pembahas utama mengatakan Sastra Minang bagi orang awam adalah sekedar hiburan. Tapi bila mengerti topik yang dibahas, ia adalah gagasan, kritik, bahkan narasi konyol tentang perangai pejabat.
"Jadi ada teks untuk dibaca, ada konteks berkaitan peristiwa hangat saat itu," katanya dalam seminar.
Tidak heran berkat media komunitas yang begitu intens dan peduli pada budaya dankesusastraan Minang ini, Andi Mulya akhirnya mendapat penghargaan prestisiusdari pemerintah.
Waow, di mata saya, Andi Mulya kini tidak lagi hanya seorang jurnalis, dan doktor dengan disertasi jurnalistik olahraga.
Tetapi telah bermetamorfosa menjadi seorang sastrawan Minang yang diperhitungkan.
Dari jaman ke jaman, banyak sastrawan lahir dari Tanah Minang. Sebut saja zaman







