Pria kelahiran Batusangkar , 5 Januari 1971 ini, berperawakan tinggi, berkulit agak gelapdan berbahasa Indonesia dengan aksen Minang yang kental. Sekali berbicara dengandia, orang akan langsung paham pria ini berasal dari Tanah Minang karena aksen bahasanya.
Orangnya ramah, mudah bergaul dan tidak jaim. Tetapi dari penampilannya yang lowprofile itu terkadang memancing orang untuk salah menilai. Seolah-olah segala sesuatuyang bungkusnya sederhana, pasti isinya simple.
Saya suka memanggilnya Datuk. Ya, Datuk Andi Mulya. Dalam konteks adat Minang,Datuk (biasa dilafalkan Datuak) adalah gelar adat tertinggi yang diberikan kepadaseorang Penghulu (pemimpin suku atau klan).
Tetapi dalam konteks saya, panggilan datuk yang saya sematkan kepada Bung Andi Mulya lebih bermakna sebagai “orang yang bijak” atau “orang yang dihormati.” Bukan sebutan formal untuk pemimpin klan Minang yang diwariskan berdasarkan garisketurunan ibu (matrilineal) melalui kesepakatan kaum.
Wartawan Bisnis.
Saya mengenal Andi Mulya pertama kali ketika ia diterima sebagai calon wartawan ekonomi Bisnis Indonesia. Koran kami berkantor di Wisma Bisnis Indonesia Lt 5-6 Jl. S. ParmanKav. 12 Slipi Jakarta Barat. Waktu itu Andi Mulya ditugaskan didesk transportasi dibawah asuhan redaktur Mas Budi Wiyono. Sebelumnya di Jasa Perdagangan dibawah Mas Muhaimin.







