Dalam konteks distribusi dan pembagian kerja yang sudah sangat mapan dan spesifik,bahkan terkesan sudah seperti dikapling kapling inilah, saya dan Andi Mulya harusberkompetisi mencari berita berita yg eksklusif dan berbobot melintasi semua sektor transportasi.
Maka sejumlah berita besar pun satu per satu saya munculkan waktu itu seperti beritapenahanan sejumlah kapal Pertamina oleh Ditjen Pajak, kasus Sempati Air yangmenunggak pembayaran avtur milyaran rupiah ke Pertamina, likuidasi Merpati Airline,kasus korupsi dalam proyek kapal Caraka Jaya di PT PAL, jatuhnya pesawat Silk Air diBanyuasin, dan berita berita menghebohkan lainnya.
Sebagai wartawan baru Andi Mulya menghadapipersaingan sengit dengan para wartawan senior di desk perhubungan. Senior sudah tentu sudah menguasai kaplingmasing masing dan lengket dengan narasumber. Wartawan yang dekat dengan narasumber, akan mudah mendapat berita dari tangan pertama.
Tetapi karena dedikasi, kerja keras dan kecerdasan intelektualnyamemang belum mendapat tempat yang pas. Ibarat potongan puzzle, dia belum ketemujodohnya.
Di kemudian hari kesaksian saya itu akhirnya terbukti.Selepas dari Bisnis Indonesia, alumnus FPOK IKIP Padang yang pernah menempuhpendidikan di Lembaga Pers Dr. Sutomo Jakarta dan kursus jurnalistik tingkat lanjut diharian KPG/Kompas itu akhirnya lebih memusatkan dirinya ke jalur akademis.







