Kalau Islam mengajarkan bahwa anak mengikuti garis keturunan ayah, mengapa orang Minangkabau justru mengikuti suku ibunya?
Pertanyaan ini sering muncul ketika orang membahas budaya Minangkabau. Tidak sedikit yang menganggap sistem matrilineal yang dianut masyarakat Minangkabau bertentangan dengan ajaran Islam. Apalagi Minangkabau dikenal dengan falsafah hidupnya yang terkenal, yaitu "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" (ABS-SBK).
Lalu, apakah benar sistem matrilineal bertentangan dengan Islam?
Ketika Suku dan Nasab Disamakan
Salah satu penyebab munculnya anggapan tersebut adalah karena banyak orang menyamakan suku dengan nasab. Padahal, keduanya memiliki makna yang berbeda.
Sementara itu, dalam adat Minangkabau, suku adalah identitas adat yang diwariskan melalui ibu. Melalui garis ibu inilah seseorang menjadi bagian dari suatu kaum dan memiliki hubungan dengan harta pusaka serta struktur kekerabatan adat.
Artinya, orang Minangkabau tidak mengganti nasab dengan suku. Mereka tetap mengakui nasab kepada ayah sesuai ajaran Islam, tetapi mengikuti suku ibunya sebagai bagian dari identitas adat.
Karena itu, masyarakat Minangkabau mengenal ungkapan:
"Bersuku kepada ibu, bernasab kepada ayah."







