IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Falsafah Alam dan Tradisi Surau dalam Sistem Pengetahuan Minang

Foto Nur Azmi Wahida
Ilustrasi Falsafah Alam dan Tradisi Surau dalam Sistem Pengetahuan Minang
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Pernah gak sih kalian tiba-tiba mikir pas lagi jalan santai di sore hari, atau pas lagi duduk-duduk dan memperhatikan arsitektur bangunan lama: Kenapa ya hidup kita orang Minang itu punya aturan yang kuat banget? Kita tahu mana yang pantang, baik dan buruk, tahu cara membawa diri di perantauan, bahkan sejak kecil kita sudah diajari untuk tidak gampang menyerah oleh keadaan.

Di mana pun kaki dipijak, orang Minang seolah punya formula rahasia untuk bertahan hidup. Semua karakter khas itu sebenarnya gak muncul begitu saja dari langit atau insting instan. Di belakang layar kehidupan kita, ada sebuah mesin besar bernama Sistem Pengetahuan yang bekerja tanpa henti selama berabad-abad. Kalau dibongkar, sistem ini sebenarnya cuma terdiri dari tiga obrolan sehari-hari yang saling mengikat: falsafah adat, pengetahuan tentang alam, dan pendidikan karakter. Kalau diibaratkan sebuah perjalanan panjang, tiga hal ini adalah kompas, kendaraan, dan jalan tolnya.

Mari kita bayangkan situasi di mana kita sedang berjalan sendirian di tengah hutan belantara atau di tanah perantauan yang sama sekali asing. Apa hal pertama yang paling kita butuhkan agar tidak tersesat? Tentu sebuah kompas penunjuk arah agar kita tidak kehilangan harga diri dan identitas.

Nah, dalam hidup orang Minang, kompas penunjuk arah itu bernama falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Falsafah ini adalah buah dari seni merenung para leluhur yang merumuskan nilai paling mendasar bahwa adat dan agama itu harus berjalan seiring sejalan, tidak boleh saling tabrak.

Sebelum aturan-aturan hukum adat dilahirkan, para tetua adat duduk bersama melihat harmoni alam lalu mencocokkannya dengan syariat. Falsafah inilah yang menentukan standar moral kita, menentukan mana yang disebut alua jo patuik (alur dan patut). Tanpa adanya falsafah ini, kita hanya akan jadi generasi yang pintar secara isi otak, tapi buta arah dan kehilangan jati diri asli kita sebagai orang Minang.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Setelah kompas menentukan ke mana arah moral kita, barulah kita butuh kendaraan bernama pengetahuan untuk bergerak maju dan bertahan hidup. Uniknya, bagi masyarakat Minangkabau, pengetahuan itu tidak melulu harus bersumber dari buku-buku tebal bersampul kaku yang ada di perpustakaan kampus.

Sumber pengetahuan utama kita justru tertuang dalam rumusan Alam Takambang Jadi Guru. Pengetahuan ini adalah kumpulan jawaban yang berhasil dirangkum setelah manusia Minang lelah mengamati bagaimana alam semesta bekerja. Kita belajar keteguhan dari batu karang, belajar arti pertumbuhan dari padi yang makin berisi makin merunduk, hingga belajar melihat tanda-tanda perubahan zaman dari perilaku alam sekitar.

Sifat pengetahuan dialektika ini sangat dinamis, membuat orang Minang secara alami dikenal cerdik, fleksibel, dan pandai membaca peluang di mana pun mereka berada. Pengetahuan inilah yang membuat kita bisa bertahan hidup dari hari ke hari.

Namun, coba bayangkan jika falsafah yang luhur dan pengetahuan yang cerdik itu cuma disimpan oleh para tetua adat di dalam kepala mereka sendiri tanpa pernah diceritakan ke anak cucu. Apa yang akan terjadi? Ya, semua kearifan lokal itu akan ikut terkubur ke dalam tanah dan punah begitu saja. Di sinilah kita butuh pilar ketiga yang bernama pendidikan.

Kalau pengetahuan adalah kendaraannya, maka pendidikan adalah jalan tol yang mempercepat perjalanannya. Di Minangkabau, pendidikan tradisional itu tempatnya bukan cuma di sekolah formal dengan seragam rapi, melainkan bermula dari surau dan ruang-ruang diskusi di lapau.

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH