IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Sumbang Makan di Minangkabau: Etika Memenuhi Perut dengan Adab

Foto Nadila Putri Ramadani
Ilustrasi Sumbang Makan di Minangkabau: Etika Memenuhi Perut dengan Adab
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Makan adalah kebutuhan dasar manusia namun dalam masyarakat Minangkabau, aktivitas makan tidak hanya dilihat dari sisi nutrisi tetapi juga dari sisi adat dan kesopanan. Dalam jagad adat Minang dikenal istilah “ sumbang makan”, yaitu perilaku saat makan yang dianggap tidak sopan, mengganggu, atau menimbulkan kesan tidak pantas di mata orang lain. Menjaga diri agar tidak sumbang makan menjadi bagian penting dari pendidikan adab sejak kecil di kalangan keluarga Minang.

Memahami Makna “ Sumbang Makan”.

Secara umum, sumbang berarti sesuatu yang tidak pada tempatnya, janggal, atau tidak sesuai dengan norma adat dan masyarakat. Dalam konteks makan, sumbang makan merujuk pada cara makan atau perilaku di sekitar makanan yang dianggap tidak beradab, misalnya makan dengan suara keras, makan dengan cara rakus, atau makan dengan sikap yang tidak rapi. Istilah ini sering masuk dalam ajaran Sumbang Duo Baleh (Dua Belas Sumbang), yang menjadi pedoman etika Moral, terutama bagi perempuan Minang, namun pada praktiknya juga berlaku bagi lakilaki dalam pergaulan seharihari.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Tujuan dari konsep sumbang makan bukan untuk menakuti atau melarang makan dengan lahap, tetapi untuk mengajarkan cara makan yang sopan, teratur, dan tidak menimbulkan rasa tidak nyaman bagi orang lain. Dalam masyarakat beradat, makan di depan orang tua, tamu, dan keluarga besar dianggap sebagai bentuk penghormatan, sehingga setiap gerakgerik saat makan harus dijaga.

CiriCiri Sumbang Makan

Beberapa perilaku yang sering dianggap sumbang makan di lingkungan Minangkabau antara lain:

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH