Peribahasa ini tidak hanya ditujukan untuk orang tua atau tokoh adat, tetapi untuk semua kalangan. Remaja, orang dewasa, bahkan anak-anak pun perlu memahami pentingnya mengendalikan ucapan. Di sekolah, para guru bisa menanamkan nilai ini sebagai bagian dari pendidikan karakter. Di rumah, orang tua bisa mencontohkannya dalam interaksi sehari-hari. Di dunia kerja, para pemimpin bisa menciptakan budaya komunikasi yang sehat dan penuh penghargaan.
Semua ini berawal dari kesadaran bahwa lisan adalah senjata yang harus digunakan dengan bijaksana. Untuk membudayakan etika dalam bertutur kata, perlu adanya upaya kolektif dari berbagai elemen masyarakat. Kampanye literasi digital yang menekankan etika komunikasi harus digalakkan, baik melalui pendidikan formal maupun media sosial. Lembaga pendidikan dapat mengintegrasikan pelajaran tentang bahaya ujaran kebencian dan pentingnya empati dalam kurikulum.
Sementara itu, tokoh masyarakat, influencer, dan media memiliki peran penting sebagai teladan dalam menyebarkan pesan positif. Dengan cara ini, nilai-nilaiyang terkandung dalam peribahasa Minangkabau ini tidak hanya dikenang sebagai warisan budaya, tetapi benar-benar dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.







