IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

PAWAI HUT RI: Antara Maslahah dan Mafsadah

Foto Yudi Septawardana
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan. Dan jika ada beberapa mafsadah (bahaya, kerusakan) bertabrakan, maka yang dipilih adalah mafsadah yang paling ringan.

Berdasarkan uraian di atas, mafsadah pawai jauh lebih besar ketimbang maslahah yang ingin dicapai. Bukan berarti ruang kreativitas berhenti sampai disitu. Karena, apabila illat (sebab) atau unsur yang negatif itu dihilangkan dalam perhelatan pawai. Tentu pawai boleh dilakukan sepanjang tidak menimbulkan mafsadah lainnya, misalnya terhindar dari perilaku boros (tabzir).

Memang sulit menghindarkan perilaku boros dalam pawai, apalagi pawai yang melibatkan arak-arakan kendaraan-kendaraan hias yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mungkin sebagian orang menganggap hal ini biasa, sebagai bentuk partisipasi warga memeriahkan HUT RI untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa. Namun, pertanyaan lain akan muncul; apakah tidak ada cara-cara yang lebih produktif dan lebih bermanfaat bagi khalayak ramai daripada mengadakan kegiataan pawai yang cenderung terjerumus pada perilaku tabzir?

Ruang nalar positif dan negatif tentu akan selalu terbuka. Ini adalah pilihan, apakah memilih sesuatu yang lebih bermanfaat atau lebih mengedepankan gengsi dan prestise dunia. Nalar positif akan menimbang-nimbang; bagaimana kalau biaya ratusan ribu bahkan sampai jutaan itu dialihkan untuk pengadaan kebutuhan pelajar yang berasal dari keluarga yang kurang mampu?

Entah seberapa banyak sepatu yang sudah menganga (sobek) diganti dengan sepatu baru. Entah seberapa banyak pakaian anak sekolah yang menguning dan sobek digantikan dengan pakaian baru. Pilihan ini memang bukan pilihan populis dan dianggap sok humanis? Tapi ini adalah dunia. Kita akan selalu dihadapkan dengan dua pilihan; positif (takwa) dan negatif (fujur) sebagaimana tertuang dalamQS. Asy-Syams: 8-10:

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya."

Sebagai seorang muslim, harus selalu membangun jiwa optimis. Bahwasanya suatu waktu nanti akan bermunculan pemimpin-pemimpin yang setiap kebijakan yang diambil adalah kebijakan yang holistik dan berpihak pada ketakwaan. Sikap optimis itu telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw saat beliau berdakwah ke negeri Tha'if bersama Zaid bin Haritsah. Bukannya sambutan hangat dan sanjungan yang beliau dapatkan. Tapi hinaan dan tindakan brutal yang tidak berprikemanusiaan yang dihadiahkan. Kalaulah beliau berjiwa pesimis tentu tawaran malaikat Jibril as, Beliau terima dengan senang hati untuk membinasakan warga Tha'if. Tawaran itu beliau tolak. Karena beliau pemimpin yang berjiwa visioner mampu melihat peluang di masa yang akan datang. Tidak terkungkung dalam kerangkeng egoisme dan keserakahan sesaat, seperti yang dipertontonkan oleh mayoritas pemimpin bangsa kita saat ini. Mudah-mudahan Allah swt menghadirkan pemimpin-pemimpin yang memiliki hati nurani dan mengikuti jejak perjuangan Baginda Nabi Muhammad saw di negeri yang tercinta ini.

Ba'da Subuh, Padang Laban, H-1 HUT RI ke-78 (Kado Hari Kemerdekaan)

Salam Merdeka dan Salam Anti Neokolonialisme!

Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777