IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Menelusuri Jejak Nyata Pertambahan Populasi Harimau Sumatera di Sumatera Barat

Evakuasi Harimau Sumatera di Kabupaten Solok, Juni 2020. Foto: Adi Prima
Evakuasi Harimau Sumatera di Kabupaten Solok, Juni 2020. Foto: Adi Prima
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Memasang perangkap sebenarnya bukan pilihan utama untuk mencegah konflik manusia dan harimau. Menghalau dengan bunyi-bunyian adalah opsi pertama, ucap Ade Putra, selaku kepala BKSDA Agam.

https://www.beritaminang.com/photos/foto/foto-kamera-penjebak-hewan-buas-di-kabupaten_foto4_211120083046.jpeg

Tim BKSDA Sumbar memeriksa kamera penjebak di Kabupaten Agam, September 2020. (foto: Adi Prima)

Karena jarak hutan dan kawasan cagar alam cukup jauh dari lokasi harimau terlihat, besar kemungkinan harimau akan melintas di perkampungan lain jika diusir dengan bunyi-bunyian, pilihan terbaik segera memasang perangkap dan kamera penjebak, sambung Ade.

Perangkap dan kamera penjebak diamati selama seminggu. Perangkap dan kamera penjebak di Agam dibuka kembali, sebab, setelah tujuh hari pengamatan tidak ditemukan lagi jejak-jejak keberadaan harimau sumatera dan dua ekor anaknya yang dilaporkan warga.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Dilindungi Tanah Ulayat

https://www.beritaminang.com/photos/foto/foto-pelepasan-harimau-sumatera-dalam-sebuah_foto5_211120083046.jpeg

Warga melihat harimau sumatera yang masuk perangkap di Solok (foto: Adi Prima)

Data Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (KLHK) tahun 2109, mengatakan, populasi Harimau Sumatera tersisa 603 ekor.

Di Sumatera Barat, faktor 'tanah ulayat' ikut menjadi pelindung populasi harimau sumatera. Tidak ada tanah yang bebas tanpa ada kepemilikan ulayat atau kaum di Sumatera Barat. Alotnya perizinan dan kepemilikan tanah di Sumatera Barat, ikut menjaga populasi satwa-satwa, khususnya harimau sumatera.

Editor : Marjeni Rokcalva
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH