KAYUTANAM - Di dataran tinggi Nagari Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman, berdiri Stasiun Kayutanam, sebuah stasiun kelas II yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah perkeretaapian di Sumatera Barat. Dibangun pada masa kolonial Belanda dan kini berstatus sebagai bangunan cagar budaya, stasiun ini tidak hanya menyimpan nilai historis, tetapi juga merepresentasikan warisan perkembangan teknologi transportasi berbasis rel di wilayah Sumatera Barat.
Pada masanya, Stasiun Kayutanam merupakan simpul utama yang menghubungkan kawasan pesisir dengan wilayah pedalaman Sumatera Barat. Dari stasiun inilah dahulu beroperasi jalur kereta api bergigi (rack railway), satu-satunya di Sumatera Barat, yang memungkinkan perjalanan kereta melintasi medan pegunungan menuju Padang Panjang. Meskipun jalur tersebut kini telah menjadi bagian dari sejarah, bangunan stasiun tetap berdiri kokoh dengan karakter arsitektur kolonial yang masih terpelihara.
Seiring perkembangan zaman, peran Stasiun Kayutanam terus bertransformasi. Setelah kembali melayani perjalanan kereta api lokal sejak tahun 2016, kini stasiun tersebut menjadi titik awal layanan KA Lembah Anai yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai pusat aktivitas di Kota Padang.
Selain memperluas jangkauan layanan, KAI Divre II Sumbar juga meningkatkan kapasitas angkut KA Lembah Anai. Jika sebelumnya menggunakan Railbus dengan kapasitas 78 tempat duduk, kini layanan dioperasikan menggunakan rangkaian kereta kelas ekonomi (K3) dengan kapasitas 192 tempat duduk. Peningkatan kapasitas tersebut memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk memanfaatkan transportasi kereta api dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan perjalanan.
Editor : Marjeni Rokcalva






