Maka kalau ada yang mengatakan corona hoaks, atau dia tidak percaya dengan corona, karena ia sehat saja. Padahal kemana mana tidak tidak pakai masker. Selama ini ia tidak peduli dan tidak pernah patuh protap kesehatan.
Mungkin karena belum ketemu sama yang bawa viru saja. Atau antibodi, imun masih sangat baik dan sangat tinggi. Dan pasti karena tidak pernah di tes.
"Nggak usah nantang, atau menyebarkan persepsi sendiri. Karena kita mungkin kuat. Tapi, pertimbangkan orang-orang yang beresiko tinggi.
Kena covid bukan aib. Sakit berobat. mati ajal, tapi jangan konyol..! Sama yang positif nggak usah sinis, kadang hanya soal nasib dan waktu. Sekarang sinis. Nanti positif malu dan meringis".
Proaktif semua diperlukan. Info yang jelas. Alur penanganan yang pasti dan rapi. Support kepada pasien. Support pada keluarga pasien. Komunikasi kepada pasien, keluarga dan masyarakat. Semua pihak, pemerintah, aparat, media, petugas kesehatan, tokoh masyarakat, semua.
Kedua: corona, dia bukan penyakit. dia virus yang dapat memicu sakit atau memperparah penyakit. Maka efeknya bisa ada, bisa beda, gejala juga gak standar atau nggak sama.
"Jadi kematian memang bukan karena virus tapi virus memperparah kondisi tubuh yang sakit atau lemah, sehingga bisa membawa kematian"
"Nggak! dia cuma paru, dia hiper tensi saja. kenapa di vonis covid. Kenapa semua orang jadi covid. dia penyakit gula, kenapa tiba-tiba jadi covid..?
Iya, sakitnya gula, hipertensi, paru. Diperparah oleh covid. Maka begitu diperiksa, ketemu virus covid. Matinya disebut mati karena covid, diselenggarakan dengan potokoler covid. Bukan apa-apa covid..apa apa covid".
Editor :






