KACANG - Nagari Kacang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, namanya sangat populer sebagai nagari penghasil jeruk manis (limau manih) terkenal, tidak hanya di Sumatera Barat, bahkan pasarnyapun sampai ke negeri semenanjung Malaysia.
Aroma dan rasa manisnya yang berbeda dengan jeruk sejenisnya di daerah lain, membuat "limau manih Kacang" dicari dan disukai, bahkan pada tahun 70 an, limau manih Kacang pernah dipesan khusus pihak Istana Presiden RI, semasa pemerintahan Presiden Suharto.
Tetapi itu dulu, sekarang ? Limau manih Kacang sulit ditemukan setelah era tahun 80 an, karena populasi tanaman ini hilang ditelan hama yang tak pernah ditemukan vaksin anti hamanya hingga kini. Bahkan, budidaya limau manih ini pun tak lagi tersentuh pemerintah dari waktu ke waktu sehingga tak mengherankan limau manih Kacang kini tinggal kenangan setelah menjadi salahsatu sumber ekonomi masyarakat kala itu.
Kini, generasi sekarang tak lagi kenal bahwa tanah leluhurnya yang terletak di batas wilayah Kabupaten Solok dengan Kabupaten Tanah Datar yang dulu populer dengan limau manih ini pernah mencatatkan sejarah bahwa limau manih Kacang selalu jadi sajian utama disetiap acara-acara penting ditingkat Kabupaten, Provinsi dan bahkan Pemerintah Pusat.
Sekarang, jejak limau manih Kacang sudah tenggelam jauh. Namun, tanah yang subur dan terbentang luas masih menjanjikan untuk digarap masyarakat sebagai lahan potensial dan menjanjikan dalam penguatan ekonomi masyarakat melalui budidaya tanaman buah naga.
Saat ini, ratusan warga petani, bahkan warga Nagari Kacang yang merantau dan bekerja sebagai awak kapal pesiar di luar negeri berinvestasi mengembangkan tanaman buah naga yang memiliki manfaat segudang untuk kesehatan ini. Tak sedikit dari mereka yang telah menikmati hasil puluhan ton panen buah naga yang dijual kepasar lokal dan regional.
"Alhamdulillah, semua petani disini tak lagi bertanam limau manih karena sudah sulit untuk dikembangkan dan selalu jadi ancaman hama ulat dibatang. Sekarang, kami kembali membangun brand dengan mengembangkan tanaman buah naga yang sudah kami nikmati hasilnya." Ungkap Alfian, petani, yang sebelumnya hidup merantau dan pernah berbisnis sarang burung walet ini.
Alfian (50) kepada beritaminang.com menyebutkan, ratusan petani sudah beralih ke buah naga dengan mengelola lahan pertanian yang luas di Tangah Padang, perbatasan dengan Nagari Tanjung Balai, Sulit Air, dan Kabupaten Tanah Datar. Tak mengherankan, dari upaya petani itu banyak saudagar buah datang menampung hasil panen mereka dengan nilai beli cukup kompetitif dalam meraih keuntungan.
Sebagai Sumber ekonomi baru masyarakat petani Nagari Kacang, Alfian sudah berinvestasi jutaan rupiah untuk menggarap lahan tanaman buah naga seluas 2 hektar, malahan diapun sudah meraup keuntungan lumayan besar ditengah kondisi COVID-19 saat ini.
Editor : Berita Minang






