PADANG - Konsep ikhlas dalam pemikiran Jalaluddin Rumi (yang banyak tertuang dalam karya-karyanya seperti Matsnawi, Diwan, maupun kumpulan ceramahnya Fihi Ma Fihi) dipahami bukan sekadar melakukan amal tanpa pamrih, melainkan penyerahan total jiwa kepada Sang Pencipta tanpa menyisakan ruang bagi ego (nafsu) dan pengakuan diri.
Demikian disampaikan oleh Rektor Universitas Negeri Padang, Ir. Krismadinata, Ph.D. dalam sambutannya pada kegiatan Subuh Mubarak yang dilaksanakan pada Jumat (6/11) bertempat di Masjid Raya Al-Azhar Kampus UNP Air Tawar Padang.
"Rumi mengibaratkan keikhlasan seperti tindakan tangan kanan yang memberi tanpa tangan kiri ikut menghitung, serta amal yang tidak lagi membutuhkan saksi manusia karena keyakinan bahwa Allah SWT sudah sepenuhnya mencukupi sebagai saksi," tambah Rektor Ir. Krismadinata, Ph.D.
Pada kesempatan itu, Rektor Ir. Krismadinata, Ph.D. menyampaikan terima kasih kepada Ustaz Toni Markos, M.Ag. Dt. Sinaro Rajo sebagai penceramah pada kegiatan Subuh Mubarak yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi dan Kesehatan pada Jumat pagi ini.
Kegiatan Subuh Mubarak yang diselenggarakan setiap Jumat pagi dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor, Kepala Lembaga, Direktur, Dekan, Direktur Sekolah, Wakil Dekan, Wakil Wakil Direktur, Kepala Departemen, Koordinator Program Studi, Kepala UPT, mahasiswa, dan sivitas akademika Universitas Negeri Padang.
Ustaz Toni Markos, M.Ag. Dt. Sinaro Rajo melalui ceramahnya bertopik "Tafsir Semantik Ayat-ayat tentang Ikhlas" menyampaikan bahwa menjelaskan kandungan Alquran, menggali hukum yang terdapat di dalam Alquran, dan menggali pesan-pesan yang terdapat di dalam Alquran.
"Ikhlas seringkali dipahami beribadah tanpa pamrih. Dari segi katanya, ikhlas adalah sesuatu yang murni. Ikhlas adalah sesuatu yang tidak bercampur dan sudah suci dan murni," jelasnya Ustaz Toni Markos, M.Ag. Dt. Sinaro Rajo.
Lebih lanjut Ustaz Toni Markos, M.Ag. Dt. Sinaro Rajo menyampaikan bahwa untuk memahami kata ikhlas dapat ditelusuri melalui surat Al-ikhlas yakni Nama Al-Ikhlas berarti kemurnian atau keikhlasan, karena surat ini merangkum prinsip tauhid murni (keesaan Allah).
"Dalam surat Al-ikhlas, dapat dipahami bahwa Allah itu satu-satunya Tuhan yang mutlak, tidak ada sekutu bagi-Nya; menjelaskan bahwa segala makhluk bergantung kepada Allah, sementara Allah tidak bergantung kepada siapa pun; menolak keyakinan bahwa Allah memiliki anak atau dilahirkan; menegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang setara, sebanding, atau serupa dengan Allah," tukuk Ustaz Toni Markos, M.Ag. Dt. Sinaro Rajo.
"Surat Al-Bayyinah ayat 5 berisi perintah bagi manusia untuk beribadah kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan, mendirikan salat, dan menunaikan zakat sebagai inti dari agama yang lurus," tambah Ustaz Toni Markos, M.Ag. Dt. Sinaro Rajo.
Pada kesempatan itu, Ustaz Toni Markos, M.Ag. Dt. Sinaro Rajo menyampaikan makna Surat Al-Bayyinah ayat 5, "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan penuh keikhlasan (taat) kepada-Nya demi menjalankan agama yang lurus (islam), dan agar mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)".
"Ikhlas tersebut adalah mukhlisina lahuddin yakni "lorang-orang yang memurnikan ketaatan dan ibadah hanya kepada Allah semata," tambah Ustaz Toni Markos, M.Ag. Dt. Sinaro Rajo. (ET)
Penulis / Wartawan: Ermanto
Editor: Ermanto




