Saluang Sirompak Taeh Baruah Minangkabau Memiliki Bunyi Khas dan Sejarah Ritual yang Kuat

Foto Rahma Wulandari
Ilustrasi Saluang Sirompak Taeh Baruah Minangkabau Memiliki Bunyi Khas dan Sejarah Ritual yang Kuat
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

SALUANG SIROMPAK merupakan alat musik tiup tradisional yang tumbuh di Nagari Taeh Baruah, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Instrumen ini memiliki bentuk dan karakter bunyi yang berbeda dari saluang yang lebih dikenal dalam kesenian Minangkabau. Saluang Sirompak berkaitan erat dengan dendang sirompak dan tradisi basirompak, sebuah praktik ritual yang dahulu dikenal dalam kehidupan sebagian masyarakat setempat. Kini, kesenian tersebut juga dikembangkan dalam bentuk pertunjukan musik yang dapat dinikmati sebagai karya seni.

Keberadaan Saluang Sirompak memperlihatkan hubungan erat antara alat musik, suara manusia, dan konteks sosial masyarakat yang melahirkannya. Untuk memahami kesenian ini, perlu dilihat dua hal yang saling berkaitan, yakni riwayat penggunaannya dalam tradisi basirompak serta perkembangannya sebagai seni pertunjukan. Keduanya menjelaskan mengapa Saluang Sirompak memiliki kedudukan yang khas di Taeh Baruah.

Bentuk dan Karakter Bunyi Saluang Sirompak

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll ke bawah untuk lanjut membaca
Saluang Sirompak termasuk alat musik tiup dari keluarga aerofon, yaitu instrumen yang menghasilkan bunyi melalui getaran udara. Bentuknya berupa tabung bambu yang dimainkan dengan cara ditiup dari salah satu ujung. Instrumen ini memiliki lima lubang nada, terdiri atas empat lubang di bagian depan dan satu lubang di bagian belakang. Susunan lubang tersebut menjadi salah satu ciri fisik yang membedakannya dari jenis saluang Minangkabau lainnya.

Jumlah dan posisi lubang nada memengaruhi cara pemain mengatur tinggi-rendah bunyi. Pemain meniup instrumen sambil membuka dan menutup lubang menggunakan jari. Perubahan posisi jari menghasilkan rangkaian nada yang menjadi dasar iringan dendang sirompak. Karakter bunyinya memiliki warna tersendiri dan tidak dapat langsung disamakan dengan permainan saluang darek atau saluang jenis lain yang berkembang di Sumatera Barat.

Catatan Redaksi (E-E-A-T): Artikel opini ini ditulis oleh Rahma Wulandari (Mahasiswa Universitas Andalas Padang) dan telah disunting oleh redaksi Marjeni Rokcalva sesuai Pedoman Media Siber Dewan Pers.
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya