SONGKET Minangkabau merupakan salah satu kain tenun tradisional yang berkembang di sejumlah daerah Sumatera Barat, dengan Pandai Sikek di Kabupaten Tanah Datar dan Silungkang di Kota Sawahlunto sebagai dua sentra yang paling dikenal. Kain ini dibuat menggunakan alat tenun tradisional dan dihiasi benang tambahan yang membentuk motif pada permukaannya. Perbedaan daerah penghasil membuat teknik, bahan, susunan motif, dan tampilan songket tidak selalu sama.
Di Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, keterampilan menenun songket telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pandai Sikek dikenal dengan kain tenun yang menggunakan benang emas atau perak dan memiliki ragam hias yang cukup rapat. Keterampilan tersebut juga diwariskan dalam lingkungan masyarakat setempat melalui keluarga dan orang-orang yang telah menguasai pekerjaan menenun.
Songket Pandai Sikek
Songket Pandai Sikek mempunyai ciri pada penggunaan benang emas dan perak untuk membentuk ragam hias pada kain. Dalam pencatatan kebudayaan, songket Pandai Sikek tercatat sebagai kain tradisional dari Kabupaten Tanah Datar dengan nomor registrasi Warisan Budaya Takbenda 2010000680. Kain tersebut dikenal dengan penggunaan motif cukie dan sungayang dalam susunan ragam hiasnya.
Istilah cukie digunakan untuk menyebut pola yang mengisi bagian tertentu pada kain. Posisi cukie dapat berada di badan kain, kepala kain, pinggir kain, atau bagian pembatas antarmotif yang disebut biteh. Sementara itu, sungayang merujuk pada corak keseluruhan kain. Beberapa nama motif yang tercatat pada songket Pandai Sikek antara lain Saik Kalamai, Buah Palo, Balah Kacang, Barantai Putiah, Barantai Merah, Tampuak Mangghih, Salapah, Kunang-kunang, Api-api, dan Pucuak Rabuang Putiah.
Kain balapak juga dikenal sebagai salah satu bentuk songket yang memiliki susunan ragam hias padat. Dalam beberapa daerah Sumatera Barat, istilah sarek atau sarat digunakan untuk menyebut kain dengan hiasan benang emas atau perak yang memenuhi sebagian besar permukaan kain. Bentuk seperti ini membutuhkan pengerjaan yang lebih rumit karena penenun harus mengatur banyak bagian motif secara teliti.
Keterampilan menenun di Pandai Sikek juga memiliki pola pewarisan yang berkaitan dengan lingkungan masyarakat. Pengetahuan menenun dapat diteruskan melalui keluarga, kerabat, tetangga, dan orang yang telah memiliki keterampilan. Dalam perkembangan masyarakat Pandai Sikek, kegiatan menenun tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pakaian adat, tetapi juga menjadi salah satu mata pencaharian warga.
Songket Silungkang
Silungkang di Kota Sawahlunto merupakan sentra tenun lain yang mempunyai karakter berbeda dari Pandai Sikek. Songket Silungkang dikenal dengan ragam motif yang berkembang dalam bentuk tersendiri. Beberapa motif yang tercatat pada songket Silungkang antara lain Bungo Malur, Pucuak Ranggo Patani, Kudo-Kudo, Batanduak, Pucuak Jawo, Pucuak Kalapa, Tigobaleh, dan Kain Balapak Gadang.







