Kedua organisasi tersebut juga menegaskan bahwa mereka masih membuka pintu dialog. Namun, dialog yang dimaksud bukan sekadar pertemuan formal, melainkan dialog yang menghadirkan seluruh pihak dan benar-benar diarahkan untuk menyelesaikan akar persoalan.
Forum silaturrahmi yang seharusnya menjadi jembatan penyelesaian kini justru menyisakan pertanyaan serius. *Ketika NU dan PERTI telah datang memenuhi undangan dengan itikad baik, mengapa justru pihak yang mengundang meninggalkan forum sebelum persoalan dibahas secara tuntas*?
Keduanya berharap MUI Pusat tidak sekadar melanjutkan agenda pengukuhan, tetapi mengambil langkah yang lebih substantif: menunda, membuka kembali ruang musyawarah, dan menyelesaikan persoalan hingga tuntas demi menjaga marwah MUI serta ukhuwah umat Islam di Sumatera Barat. (R)
Editor : Marjeni Rokcalva






