Menurut Elok Piko, potensi UMKM Nagari Pangian sebenarnya jauh lebih besar. Namun, sebagian besar produk kuliner masih menghadapi kendala pada aspek daya simpan yang relatif singkat sehingga belum siap dipasarkan secara lebih luas melalui platform digital.
“Produk kita sebenarnya banyak. Kendala terbesar adalah bagaimana makanan bisa bertahan lebih lama. Produk seperti sambal dan kuliner khas lainnya masih membutuhkan teknologi pengawetan yang baik agar bisa dipasarkan secara nasional melalui platform digital,” katanya.
Ia menjelaskan, berbeda dengan rendang belut yang mampu bertahan hingga sekitar dua bulan, sebagian besar produk kuliner lainnya masih membutuhkan inovasi pada teknologi pengemasan dan pengawetan. Karena itu, pendampingan kepada pelaku UMKM kini tidak hanya difokuskan pada peningkatan kualitas produksi, tetapi juga diarahkan pada penerapan teknologi pangan agar produk memiliki daya simpan lebih panjang dan daya saing yang lebih kuat.
Mahasiswa KKN membantu pelaku UMKM mulai dari pembuatan akun TikTok, strategi meningkatkan jumlah pengikut, teknik siaran langsung (live shopping), pengelolaan pesanan, hingga sistem pembayaran digital.
Editor : Marjeni Rokcalva






